Smi mundur

Pengusaha Menyayangkan, Sekaligus Bangga

Kompas.com - 06/05/2010, 09:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagian pengusaha menyayangkan, tetapi sekaligus bangga dengan ditunjuknya Sri Mulyani Indrawati sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Ketegasan dan keberanian Sri Mulyani dalam membersihkan jajarannya yang korup dan kecepatan sekaligus ketepatannya dalam mengambil kebijakan tidak tertandingi.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan, ”Terlepas dari hiruk-pikuk perpolitikan negeri ini, Sri Mulyani adalah sosok yang bertindak berani, tanpa tedeng aling-aling atau kepentingan tertentu.”

CEO Mustika Ratu Putri K Wardani mengatakan, Sri Mulyani sesungguhnya sosok yang cepat tanggap. Berbagai persoalan yang disampaikan pengusaha direspons dengan cepat.

Pendapat berbeda disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia Haniwar Syarief. Menurut dia, visi Sri Mulyani sewaktu merangkap menjadi Menko Perekonomian memang jelas, tetapi mazhab ekonominya terkadang dirasakan kurang cocok dengan iklim usaha di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy mengatakan, ”Sri Mulyani masih memiliki pekerjaan yang belum tuntas, seperti kebijakan perpajakan, bea cukai, dan fungsi intermediasi bank.”

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Gabungan Elektronik Indonesia Yeane Keet menyesalkan pengunduran diri Sri Mulyani yang dikenal tegas dalam mengambil kebijakan.

”Secara pribadi, saya juga bangga karena Sri Mulyani sudah siap menerima tantangan tugas berskala internasional. Seperti kita tahu, selama ini Indonesia juga sudah masuk dalam perangkap program Bank Dunia. Mudah-mudahan saja kehadiran Sri Mulyani dapat menjadi ’angin segar’ bagi kemajuan perekonomian Indonesia,” papar Yeane.

Dampak ekonomi

Ekonom Dradjad Hari Wibowo mengatakan, publik tidak perlu khawatir pada dampak ekonomi yang disebabkan oleh keberangkatan Sri Mulyani ke Washington.

Sebab, ujar Dradjad, Indonesia juga memiliki orang-orang yang layak memimpin Kementerian Keuangan, seperti Pejabat Sementara Bank Indonesia Darmin Nasution, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu, atau Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Mulia P Nasution.

”Dampaknya sangat bagus. Sri Mulyani bisa diharapkan untuk mengegolkan kebijakan yang meringankan beban utang negara-negara yang banyak utang. Selain itu, jabatan managing director adalah posisi yang prestisius, sangat jarang yang mendapatkan kesempatan langka ini,” kata dia. (NTA/NWO/OIN/OSA/FAJ/PPG/WHY)

Selengkapnya kunjungai http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/06/03042452/

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau