JAKARTA, KOMPAS.com — Biaya atas kepergian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ke Washington untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia mulai kelihatan dengan naiknya imbal hasil obligasi negara sekitar 30 basis poin atau 0,3 persen hanya dalam setengah hari. Padahal, dalam kondisi normal, kenaikan imbal hasil sekitar 5 basis poin dalam sehari sudah dapat membuat pengelola surat utang di Kementerian Keuangan bersikap waspada.
"Saya kira mungkin ada kaitannya dengan rencana Ibu Menteri ke Bank Dunia. Karena dalam situasi normal, kami sudah menganggap tinggi dengan kenaikan lima basis poin," ungkap Direktur Jenderal Pengelola Utang Rahmat Waluyanto di Jakarta, Kamis (6/5/2010).
Menurut Rahmat, imbal hasil surat utang negara yang jatuh tempo 10 tahun kemarin ada di level 8,5 persen. Kemudian pada penutupan Rabu sempat mencapai 8,7 persen. Lalu pergerakan imbal hasil sepanjang pagi hari Kamis ini sempat melampaui 9 persen.
"Meski demikian, tidak akan ada masalah dengan pemenuhan target penerbitan obligasi negara yang ditetapkan Rp 107 triliun. Meskipun ada kemungkinan imbal hasil yang diperoleh lebih tinggi," ungkapnya.
Khusus untuk pasar obligasi internasional, posisi credit default wwap (CDS) atau tingkat risiko gagal bayar juga dilaporkan melonjak dari 150 basis poin pada pekan depan menjadi 200-206 basis poin kemarin. Ini menunjukkan persepsi pelaku pasar modal di dunia yang menilai ada kenaikan risiko gagal bayar di Indonesia.
"Ibu Menteri adalah ikon di pasar obligasi internasional. Kalau Ibu pergi, pelaku pasar akan menantikan ikon baru nanti," ungkap Rahmat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang