PADANG, KOMPAS.com — Pasca-gempa di Bengkulu, Rabu malam, tidak membuat surut aktivitas melaut nelayan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang merupakan daerah terdekat dari pusat gempa.
Buktinya, sejumlah nelayan masih tetap berkegiatan seperti biasa, tanpa rasa cemas. "Memang terasa ada gempa semalam, tapi tidak terlalu kuat," kata Anto, nelayan yang berdomisili di Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan (Pessel), Kamis (6/5/2010).
Selain itu, menurut dia, usai terasa getaran, gelombang juga tidak tinggi. "Alhasil, para nelayan tetap saja melaut," katanya.
Hal senada ikut dikatakan Agus, nelayan di Kecamatan Lengayang. "Selagi tidak berpengaruh ke gelombang, kami selaku nelayan tidak akan takut melaut," katanya.
Koordinator nelayan Pessel, Ombak Rancam, menambahkan, getaran gempa kecil sudah dianggap biasa dan tidak terlalu membuat cemas para nelayan. "Kecuali, gelombang besar dan angin kencang (badai) karena berpengaruh langsung ke hasil tangkapan," katanya.
Luas perairan laut di Pessel mencapai 232,4 km2, potensi ikannya 95.000 ton per tahun, dan total jumlah nelayan berkisar 16.500 orang. Sentra tangkapan ikan di Pessel berada di Kecamatan Koto XI Tarusan, Linggo Sari Baganti, dan Sutera.
Sebagai informasi, data BMKG menunjukkan bahwa gempa di Bengkulu terjadi pada 5 Mei 2010, pukul 23:00:01. Gempa berlokasi di 4.24 LS-100.97 BT, berpusat di 143 km Barat Daya Lais-Bengkulu, dan berada di kedalaman 10 km.
BMKG juga melansir bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, walau berkekuatan 6,3 SR.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang