Serabi Arab Tampil Mewah, Mau Coba?

Kompas.com - 06/05/2010, 22:08 WIB

KOMPAS.com - Serabi atau surabi tidak selalu identik dengan mbok-mbok berkebaya sambil memegang kipas bambu. Sekarang kue tradisional Indonesia ini tampil beda dengan aneka rasa. Tinggal pilih jenis topping-nya, jadilah kue serabi modern dengan rasa unik. Yang mana pilihan Anda?

Sejak lama, kue tradisional berbentuk bundar ini menjadi salah satu kudapan favorit orang Indonesia. Tepung beras dan kelapa (baik dalam bentuk santan maupun kelapa parut) adalah dua komponen utama serabi. Untuk kue serabi jenis tertentu, ada pula yang menambahkan tepung terigu, gula, atau garam untuk mendapatkan rasa asin-gurih.

Adonan serabi yang sudah jadi akan dicetak dalam tungku pemanggang dari tanah liat. Bentuknya bundar, mirip wajan kecil. Proses pemanggangan menyebabkan kue serabi gosong di bagian bawah, tapi justru itulah yang menimbulkan cita rasa dan aroma khas kue serabi.

Pernahkah Anda membayangkan kalau serabi juga bisa tampil mewah seperti pizza. Dari pada penasaran coba saja serabi super supreme ala Surabi Arab yang ada di Jalan Pajajaran, Bogor. Topping atau lapisan di atasnya dihias persis dengan isian pizza. Ada keju, nanas, paprika, tomat, bawang bombai, smoked beef. Cuma yang membedakan bagian dasarnya.

Kalau pizza menggunakan bahan tepung terigu yang mengembang jadi roti, sedangan serabi memakai tepung beras. Setelah dirasakan, rasa serabinya tidak kentara lantaran sudah tertutup topping yang begitu mantap.

"Kami ingin mengangkat citra kue tradisional sehingga bisa dikenal di dunia internasional. Salah satunya adalah dengan pengembangan dari topping serabi ini," ujar Imam Wijayanto pemilik Surabi Arab.

Ada 30 rasa serabi yang ditawarkan, mulai dari yang berasa asin, manis hingga dengan topping es krim. Serabi andalan dan menjadi best seller yaitu serabi oncom, serabi mayonese, dan serabi es krim.

Yang memakai saos mayonese ini pun di beri variasi lainnya seperti sosis, ayam, telur. Atau untuk yang khusus surabi mayonese juga ditambahkan topping seperti telur.

Imam menuturkan, untuk jenis serabi oncom dan serabi manis biasanya disukai oleh para orang tua, serabi es krim paling disuka kaum perempuan dan anak-anak, sedangkan kaum mudanya menggemari serabi mayonese.

Tidak pernah terbayangkan, oncom dijadikan lapisan untuk serabi. Rasanya pun cukup unik. Oncom yang digunakan jenis oncom hitam yang terbuat dari kacang tanah. Oncom tersebut ditumis beserta bumbu hingga kering, barulah diletakkan pada adonan serabi.

"Yang paling penting saat proses pemanggangan, arang harus dijaga supaya tetap menyala dan panasnya konstan. Bara api dari kayu bakar biasanya lebih bagus untuk memanggang serabi, aroma yang keluar pun lebih sedap," tutur pria yang pernah bekerja di sebuah perusahaan penerbitan ini.

Untuk jenis serabi tertentu ada yang langsung dimasak di atas kuali kecil dari tanah liat beserta toppingnya. Tetapi untuk serabi super supreme serta serabi yang memakai keju dan mayonese, diberi topping-nya pada saat serabinya sudah matang, kemudian setelah itu di panggang dalam oven. Mayonese yang dipakai bukanlah produk jadi tapi buatan sendiri (home made).

Sedangkan untuk serabi es krim, di atasnya diberi es krim vanila lalu ditambah lagi selai bluebarry dan selai strawberry. Sebagai sentuhan pemanisnya diberikan buah strawberry segar di atasnya. Rasanya seperti melahap pancake (kue dadar) yang diberi es di atasnya.

Imam menambahkan, pada dasarnya adonan serabi yang dipakai untuk semua jenis topping sama. Hanya saja untuk serabi es krim adonannya lebih lembut dengan perbandingan penambahan airnya yang dilebihkan dari resep awal.

Menurutnya, membuat serabi itu susah-susah gampang. Kuncinya pada saat pemasakan di atas cetakan. Kita harus tahu panas cetakan dengan tepat. Kalau terlalu panas akan menyebabkan gosong tapi kalau terlalu dingin pun bisa membuat lengket di wajan pencetak serabi. Untuk memasaknya hingga matang hanya dibutuhkan waktu 3-4 menit.

Makanan seperti serabi ini harus dibuat secara dadakan dan paling enak disantap selagi hangat, kecuali yang memakai topping es krim. Imam mengatakan, serabi buatannya ini bisa tahan sampai satu hari bila dimasukkan ke dalam kulkas dan teksturnya pun masih terasa lembut.

Dalam membuat adonan, Imam selalu membuat dalam takaran untuk jumlah tertentu. Untuk satu adonan bisa menjadi 20 serabi. Kalau sudah habis barulah membuat adonan baru. Hal ini, katanya, untuk menjaga kesegaran dari kue tersebut.

Untuk mereka yang menyukai rasa klasik, bisa memilih serabi manis. Rasa klasik yang dimaksud adalah serabi disiram dengan kinca gula merah. Harga yang dipatok Surabi Arab ini berkisar Rp 4.500-Rp 10.000 per potong. Hanya makan satu serabi saja sudah sangat mengenyangkan. (Warta Kota/Dian Anditya Mutiara)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau