Jalan rusak

Turis Asing ke Kerinci Terus Menyusut

Kompas.com - 07/05/2010, 16:02 WIB

JAMBI, KOMPAS - Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kerinci terus menyusut selama tiga tahun terakhir. Untuk itu akan digelar kembali Festival Danau Kerinci guna menjaring lebih banyak wisatawan asing yang berkunjung ke wilayah tersebut. Namun, hal itu perlu dibarengi dengan perbaikan infrastruktur.

Berdasarkan data Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (DPOKP) Kerinci, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kerinci pada tahun 2007 sebanyak 2.629 orang. Jumlah itu menurun pada tahun 2008, yaitu hanya 2.601 orang, dan pada tahun 2009 berkurang lagi menjadi 2.267 orang. Obyek yang paling sering dikunjungi adalah Danau Kerinci, Gunung Kerinci, dan kebun teh Kajoe Aro.

Kepala Dinas DPOKP Kerinci, Arlis Harun mengatakan, Kamis (6/5), penurunan jumlah wisatawan asing itu disebabkan infrastruktur menuju Kerinci dalam kondisi rusak, baik yang dari Jambi maupun dari pesisir barat. Padahal, kondisi infrastruktur selalu menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan sebelum berkunjung ke satu daerah.

Menurut dia, hampir setiap hari sekitar 70 wisatawan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Sumatera dari arah selatan. Ketika melewati Kota Bangko yang merupakan pintu gerbang menuju Kerinci dan Sumatera Barat, wisatawan asing lebih memilih untuk meneruskan perjalanan ke Sumatera Barat. Penyebabnya, dari arah Kota Bangko menuju Kerinci, jalan yang rusak sekitar 60 kilometer.

”Banyak wisatawan yang tadinya ingin berkunjung ke Kerinci akhirnya batal setelah tahu kondisi jalan rusak parah,” kata Arlis.

Penyebab lain, menurut Arlis, yakni rendahnya koordinasi antarsatuan kerja pemerintah daerah di Kerinci terkait pengembangan wisata daerah tersebut. Ketika ada satuan kerja yang bertugas ke luar negeri, misalnya, mereka tidak sekaligus melakukan promosi daerahnya sendiri. Akibatnya, banyak calon wisatawan potensial tidak memperoleh informasi memadai dan konferensif tentang keindahan panorama Kerinci.

Festival Kerinci

Menurut Arlis, tahun ini pihaknya mengupayakan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dengan menggelar kembali Festival Danau Kerinci yang ditiadakan pada tahun 2009. Festival akan berlangsung pada 7-10 Juli. Selain itu, pihaknya juga menggelar acara mingguan di Danau Kerinci berupa atraksi budaya di tepi danau oleh kalangan pelajar tingkat SMP hingga SMA. Atraksi terebut sudah berlangsung sejak tiga pekan silam dan berlanjut hingga akhir tahun 2010.

Untuk menarik minat wisatawan asing, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama pembangunan hotel bintang empat dengan investor asal Malaysia. ”Investor akan membangun hotel di tepi Danau Kerinci dan di kaki Gunung Kerinci,” tuturnya.

Pengemasan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Didy Wurjanto mengatakan, wisatawan asing kurang tertarik jika hanya disuguhkan keindahan alam. Mereka juga ingin berinteraksi dengan alam dan budaya masyarakat setempat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kerinci perlu untuk mengemas paket-paket wisata alam yang dipadukan dengan budaya. Misalnya, selain berkunjung ke Danau Kerinci, wisatawan disuguhkan tarian lokal, menikmati makanan khas setempat, atau diajak turun ke sawah.

Kawasan Kerinci memiliki lebih dari 20 obyek wisata alam yang indah dan menarik untuk dikunjungi. Selain Danau dan Gunung Kerinci, terdapat pula Danau Gunung Tujuh, Danau Kaca, Danau Singkarak, Rawa Bento, Air Terjun Telung Berasap, Air Panas Sumurup, dan masih banyak lagi.

Kerinci merupakan gunung vulkanik tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 3.805 di atas permukaan laut. Di sana terdapat ekosistem rawa yang dinamakan Rawa Ladeh Panjang dan ekosistem danau air tawar, yaitu Danau Belibis. Danau Gunung Tujuh adalah danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara.

Kerinci juga kaya akan budaya dan tradisi. Ada tarian niti naik mahligai, yang merupakan tata cara menjelang naiknya seseorang menjadi raja. (ITA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau