Jadi direktur pelaksana bank dunia

Siapa Merencanakan SMI ke Bank Dunia?

Kompas.com - 10/05/2010, 09:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hijrahnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ke Washington DC, Amerika Serikat, guna menempati posisi Direktur Pelaksana Bank Dunia, mulai 1 Juni mendatang, seolah-olah mengejutkan semua pihak. Proses persetujuan pengunduran dirinya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun dinilai sejumlah pihak terlalu cepat dan mudah.

Ekonom senior Kwik Kian Gie sempat mengungkapkan keheranannya atas proses kilat yang terjadi dalam proses hijrah ini. Menurut Kwik, hijrahnya seorang direktur perusahaan saja tidak serta-merta bisa dilakukan dalam kurun satu bulan.

Pertanyaannya, benarkah kepindahan Sri Mulyani semata-mata merupakan proses sepihak Bank Dunia yang naksir berat dengan salah satu wanita perkasa di dunia versi majalah Forbes ini? Benarkah demikian? Presiden mengaku, ia baru mendengar kabar dipinangnya Sri Mulyani sebelum rapat kabinet di Tampak Siring, Bali, pada 20 April silam. Surat resmi dari Presiden Bank Dunia Robert Zoellick baru diterimanya pada 25 April.

Beberapa pejabat di Kementerian Keuangan, seperti dikutip The Jakarta Post (6/5/2010), menyebutkan, Sri Mulyani diminta untuk mundur dan ditawari tugas Bank Dunia sebagai jalan keluar terhormat. Menurut pejabat itu, Sri Mulyani tidak pernah punya rencana mundur dan belum pernah pula mengajukan lamaran ke Bank Dunia.

Pernyataan ini dikuatkan oleh ekonom Faisal Basri. Dalam kolomnya di Harian Kompas, Senin (10/5/2010), Faisal menulis, sepanjang pengenalannya, mengemban tugas negara di negeri sendiri merupakan pilihan pertama bagi seorang Sri Mulyani. Menurut Fasial, bukan merupakan kelaziman kalau pejabat aktif setingkat menteri menyeberang ke lembaga internasional.

"Yang lazim, justru sebaliknya. Bagaimanapun, bagi seorang nasionalis sejati, seperti juga Sri Mulyani, mengabdi kepada negara adalah yang utama. Setelah teruji sukses di negaranya, barulah setelah pensiun ditarik ke lembaga-lembaga internasional untuk berbagi maslahat dengan komunitas dunia," tulis Faisal.

Oleh karena itu, lanjut dia, terasa kontradiktif dan ganjil membaca pernyataan Presiden yang menyatakan, meski menilai Sri Mulyani salah satu menteri terbaik dalam kabinet yang dipimpinnya, Presiden mengizinkan pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

"Jika Presiden yakin bahwa Sri Mulyani adalah aset berharga bagi bangsa, mengapa Presiden tidak menolak seketika permohonan pengunduran diri Sri Mulyani. Kalaupun ditolak, kita agaknya yakin Sri Mulyani tak akan mutung. Justru ia bangga dan semakin teguh melanjutkan pengabdian karena beroleh penguatan komitmen dukungan dari atasannya," ungkap Faisal.

Sudah lama

Jauh sebelum peristiwa mengejutkan ini terjadi, sebenarnya desas-desus soal Bank Dunia sudah beredar dalam senyap. Desas-desus ini berembus sejak Desember, tak jauh dari saat DPR membentuk Pansus pada 4 Desember 2009. Salah seorang anggota Tim Sembilan atau tim inisiator Hak Angket Century dalam roadshow-nya ke sejumlah media sempat berbisik pada akhir perbincangan bahwa Sri Mulyani akan "di-Bank Dunia-kan". Kala itu desas-desus ini tentu saja off the record meski terdengar seperti rumor tak jelas.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Irjen Kementerian Keuangan Hekinus Manao mengungkapkan, Bank Dunia sejak akhir 2009 sudah melirik Sri Mulyani. "Prosesnya sudah dari beberapa bulan lalu. Ya, ada proses dari suatu komite yang searching di beberapa negara," katanya.

Sri Mulyani sendiri, ketika dikonfirmasi soal rencana lama ini oleh para wartawan beberapa hari lalu, enggan menjawab. "Kalau itu, tidak usah saya jawab," ujarnya sambil tersenyum. Sri Mulyani resmi mengajukan surat pengunduran diri pada 5 Mei 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau