Kelembagaan

Sri Mulyani Menyindir Sikap Komisi XI DPR

Kompas.com - 11/05/2010, 03:42 WIB

Jakarta, Kompas - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperlihatkan sikap tegasnya berkaitan dengan sikap fraksi di DPR yang terus mempermasalahkan kedatangannya di Komisi XI DPR. Perdebatan yang mempermasalahkan Menteri Keuangan sebagai wakil pemerintah yang resmi sebaiknya dihentikan.

”Saya hadir di sini (dalam rapat kerja Komisi XI DPR) secara resmi atas dasar undangan Komisi XI. Oleh karena itu, saya meminta Komisi XI membicarakan terlebih dahulu secara intens hal tersebut. Karena, hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terjadi terus dalam hubungan kelembagaan,” ungkap Sri Mulyani di Jakarta, Senin (10/5).

Pernyataan Sri Mulyani ini sempat menghentikan perdebatan saat Rapat Kerja Komisi XI DPR baru saja dimulai. Kedatangan Sri Mulyani dipermasalahkan pertama kali oleh anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Dolphi Ofp.

”Mohon saya izin untuk menunggu kehadiran Menko Perekonomian (Hatta Rajasa) untuk melanjutkan pembahasan ini,” ujarnya sembari meninggalkan ruangan dan diikuti semua anggota Fraksi PDI-P di Komisi XI.

Semua anggota Fraksi PDI-P tetap meninggalkan ruangan meskipun Pemimpin Rapat Kerja Melchias Markus Mekeng yang menjelaskan bahwa Hatta Rajasa berhalangan hadir karena sedang dalam perjalanan dinas ke Malaysia dan Singapura pada 10-11 Mei 2010. ”Undangan disampaikan kepada Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Dan, Pak Hatta sudah menyampaikan surat balasannya,” ungkapnya.

Setelah rapat kerja dilanjutkan, Sri Mulyani yang per 1 Juni nanti menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia meminta jajaran Komisi XI DPR tidak menekan terlalu keras aparatnya di Ditjen Pajak. Tekanan yang terlalu keras akan mendorong aparat pajak kembali ke perilaku lamanya, yakni berburu di kebun binatang. Kiasan yang merujuk pada sistem penghimpunan penerimaan pajak dengan memelihara wajib-wajib pajak tertentu, dengan maksud agar penerimaan negara tetap terpelihara.

”Ditjen pajak jangan ditekan, jangan sampai terintimidasi karena mereka juga merupakan tulang punggung kita. Meski demikian, saya selalu keras ke dalam agar menjamin seluruh reformasi itu tetap jalan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, untuk pertama kali, Sri Mulyani memohon maaf atas perilaku anak buahnya yang melenceng dari asas yang ditetapkan, seperti yang telah dilakukan oleh Gayus HP Tambunan. ”Saya mohon maaf kalau ada insiden dari oknum kami yang menyebabkan citra tidak baik, dan bahkan dijadikan pertanda reformasi tidak berhasil. Saya tegaskan, reformasi birokrasi itu sudah berhasil. Reformasi birokrasi tidak dibuat untuk memuaskan satu pejabat seperti saya, tetapi ingin membuat Kementerian Keuangan kuat dan kredibel,” ucapnya.

Menkeu baru

Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat di Istana Wakil Presiden menyatakan, melihat model komunikasi yang intensif antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, keduanya diperkirakan juga saling berkomunikasi mengenai calon Menkeu pengganti Sri Mulyani. Pasalnya, keduanya diyakini mengetahui urgensi dari posisi Menkeu dalam pemerintahan.

”Soal pengganti Menkeu, itu hak prerogatif Presiden. Saya tahu persis model komunikasi yang intensif dan sangat erat di antara keduanya. Bisa diasumsikan, Presiden dan Wapres sama-sama mengetahui urgensi posisi Menkeu saat ini,” ujar Yopie.

Menurut Yopie, kedua pemimpin itu diperkirakan juga saling berkomunikasi dan saling bertukar nama. Namun, Yopie mengaku tidak mengetahui secara persis soal nama-nama yang didiskusikan itu.

Sementara itu, Sri Mulyani di Kantor Presiden, Jakarta, menegaskan bahwa Presiden Yudhoyono telah memikirkan pengganti dirinya dengan matang dan hati-hati.

”Presiden tentunya memikirkan dengan sangat hati-hati dan matang semua aspek karena bagaimanapun peranan Menteri Keuangan itu penting. Kita tunggu saja beliau, kan sedang dalam proses menetapkan,” ujarnya.

Soal adanya pandangan bahwa kepindahannya ke Bank Dunia tidak menunjukkan keberpihakan pada Indonesia, Sri Mulyani hanya berujar, ”Saya nasionalis sejati.”(OSA/day/har/EVY/oin/ham)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau