Jakarta, Kompas -
Peringatan itu dikatakan mantan anggota Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century dari Fraksi Partai Golkar (F-PG), Bambang Soesatyo, di Jakarta, Senin (10/5). ”Golkar tanpa sadar masuk dalam jebakan. Golkar berpikir hebat ditunjuk sebagai ketua harian koalisi. Namun, yang hebat adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena dengan penunjukan itu membuat Golkar dihujat,” katanya.
Bambang juga mengatakan, penunjukan itu membuat Golkar harus bertanggung jawab atas semua dinamika yang terjadi di koalisi. Padahal, Golkar hanya memiliki tiga menteri di kabinet.
”Penunjukan itu merusak reputasi Golkar. Konsentrasi Golkar saat ini seharusnya memenangi Pemilu 2014, bukan posisi menteri di kabinet,” ujarnya. Bambang mengaku menerima ratusan hujatan dari konstituen dan koleganya.
Namun, pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menilai penunjukan Aburizal sebagai Ketua Harian Sekretariat Bersama (Sekber) adalah bukti kegagalan Yudhoyono mengendalikan koalisi sehingga ia harus menerima desakan Golkar.
Menurut Arbi Sanit, Sekber menjadi kekuatan politik baru yang bisa menentukan apa saja yang bisa atau tak bisa dilakukan Presiden. ”Motivasi Presiden Yudhoyono jelas, bagaimana caranya pemerintahannya lancar lima tahun tanpa diganggu. Ia mengajak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bergabung, tetapi tidak mau. Sekarang Golkar yang ambil kesempatan itu,” papar Arbi Sanit.
Presiden Yudhoyono, kata Arbi Sanit, kini dikepung Golkar. ”Jadi, walau dalam Pemilu 2009 ia menang, sekarang ia kalah oleh Golkar. Gol utamanya, Aburizal Bakrie menjadi Presiden pada tahun 2014,” ujar Arbi Sanit.
Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies J Kristiadi menilai Sekber pendukung Yudhoyono-Boediono diperkirakan tak akan bertahan lama. Koalisi tersebut rapuh sebab tidak dibangun dengan platform yang jelas dan transaksional belaka. Koalisi itu diperkirakan hanya bertahan sampai tahun 2013.
Wakil Ketua DPR dari F-PG Priyo Budi Santoso di Jakarta, Senin, membantah tuduhan bahwa Aburizal Bakrie memegang kendali koalisi parpol pendukung pemerintah. Koalisi parpol tetap dipimpin Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
”Tidak benar seakan-akan Ical (Aburizal Bakrie) menguasai semua,” katanya. Aburizal dipilih menjadi ketua harian Sekber dengan pertimbangan Golkar adalah partai terbesar kedua dalam koalisi. Aburizal juga tergolong politisi senior.
Priyo juga membantah tuduhan adanya kesepakatan politik antara Partai Demokrat dan Partai Golkar di balik pemilihan Aburizal sebagai ketua harian. ”Tidak ada politik transaksional, tak ada
Ketua DPR Marzuki Alie, dari Fraksi Partai Demokrat, juga membantah adanya transaksi di balik pembentukan Sekber. Sekber untuk mempererat komunikasi antarpartai anggota koalisi. Sekber bukan untuk menyamakan pandangan atau membungkam anggota koalisi. Sekber itu juga masih bisa berubah setelah Partai Demokrat menggelar kongres.(dwa/fer/har/ana/nwo/nta)