Partai politik

Sekretariat Bersama Jebakan bagi Golkar

Kompas.com - 11/05/2010, 03:43 WIB

Jakarta, Kompas - Terpilihnya Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai Ketua Harian Sekretariat Bersama Partai Politik Pendukung Pemerintah telah menjebak Golkar. Peristiwa itu membuat Golkar menerima banyak hujatan.

Peringatan itu dikatakan mantan anggota Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century dari Fraksi Partai Golkar (F-PG), Bambang Soesatyo, di Jakarta, Senin (10/5). ”Golkar tanpa sadar masuk dalam jebakan. Golkar berpikir hebat ditunjuk sebagai ketua harian koalisi. Namun, yang hebat adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena dengan penunjukan itu membuat Golkar dihujat,” katanya.

Bambang juga mengatakan, penunjukan itu membuat Golkar harus bertanggung jawab atas semua dinamika yang terjadi di koalisi. Padahal, Golkar hanya memiliki tiga menteri di kabinet.

”Penunjukan itu merusak reputasi Golkar. Konsentrasi Golkar saat ini seharusnya memenangi Pemilu 2014, bukan posisi menteri di kabinet,” ujarnya. Bambang mengaku menerima ratusan hujatan dari konstituen dan koleganya.

Kemenangan Partai Golkar

Namun, pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia, Arbi Sanit, menilai penunjukan Aburizal sebagai Ketua Harian Sekretariat Bersama (Sekber) adalah bukti kegagalan Yudhoyono mengendalikan koalisi sehingga ia harus menerima desakan Golkar.

Menurut Arbi Sanit, Sekber menjadi kekuatan politik baru yang bisa menentukan apa saja yang bisa atau tak bisa dilakukan Presiden. ”Motivasi Presiden Yudhoyono jelas, bagaimana caranya pemerintahannya lancar lima tahun tanpa diganggu. Ia mengajak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bergabung, tetapi tidak mau. Sekarang Golkar yang ambil kesempatan itu,” papar Arbi Sanit.

Presiden Yudhoyono, kata Arbi Sanit, kini dikepung Golkar. ”Jadi, walau dalam Pemilu 2009 ia menang, sekarang ia kalah oleh Golkar. Gol utamanya, Aburizal Bakrie menjadi Presiden pada tahun 2014,” ujar Arbi Sanit.

Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies J Kristiadi menilai Sekber pendukung Yudhoyono-Boediono diperkirakan tak akan bertahan lama. Koalisi tersebut rapuh sebab tidak dibangun dengan platform yang jelas dan transaksional belaka. Koalisi itu diperkirakan hanya bertahan sampai tahun 2013.

Tetap Yudhoyono

Wakil Ketua DPR dari F-PG Priyo Budi Santoso di Jakarta, Senin, membantah tuduhan bahwa Aburizal Bakrie memegang kendali koalisi parpol pendukung pemerintah. Koalisi parpol tetap dipimpin Yudhoyono, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

”Tidak benar seakan-akan Ical (Aburizal Bakrie) menguasai semua,” katanya. Aburizal dipilih menjadi ketua harian Sekber dengan pertimbangan Golkar adalah partai terbesar kedua dalam koalisi. Aburizal juga tergolong politisi senior.

Priyo juga membantah tuduhan adanya kesepakatan politik antara Partai Demokrat dan Partai Golkar di balik pemilihan Aburizal sebagai ketua harian. ”Tidak ada politik transaksional, tak ada deal-deal apa pun, apalagi terkait mundurnya Sri Mulyani (Menteri Keuangan),” katanya.

Ketua DPR Marzuki Alie, dari Fraksi Partai Demokrat, juga membantah adanya transaksi di balik pembentukan Sekber. Sekber untuk mempererat komunikasi antarpartai anggota koalisi. Sekber bukan untuk menyamakan pandangan atau membungkam anggota koalisi. Sekber itu juga masih bisa berubah setelah Partai Demokrat menggelar kongres.(dwa/fer/har/ana/nwo/nta)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau