Keindahan kota

Satpol PP Mulai Menertibkan PKL

Kompas.com - 11/05/2010, 04:30 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah absen beberapa pekan pasca-kerusuhan Koja yang menelan tiga korban tewas dari pihak Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta, mulai pekan ini mereka kembali menertibkan pedagang kaki lima yang berdagang di tempat terlarang.

Sejak kerusuhan Koja, hingga pekan lalu kalangan satuan polisi pamong praja (satpol PP) tidak menertibkan pedagang kaki lima (PKL). Mereka hanya berpatroli dan membujuk PKL agar tidak berjualan di tempat yang dilarang.

Melunaknya sikap satpol PP membuat sebagian PKL menyerbu trotoar, taman, dan bahu jalanan. Akibatnya, Jakarta menjadi lebih macet dan tidak teratur.

Di Jakarta Barat, Senin (10/5), satpol PP bersama petugas Suku Dinas Tata Air dan warga sekitar membongkar 80 bangunan liar di atas saluran air di lingkungan RW 5 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat.

Di tempat lain, di jalan layang persimpangan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Satpol PP Jakarta Timur menertibkan belasan pedagang buah siap saji. Jembatan layang yang rawan kecelakaan lalu lintas dan tampak kumuh oleh PKL itu kemarin tampak lebih bersih dan luas.

Di tempat lain, Kepala Satpol PP Jakarta Timur Tiangsa Surbakti mengatakan, pihaknya telah menertibkan belasan pedagang buah segar siap saji di jalan layang persimpangan Pasar Rebo. ”Kami melakukan penertiban hari Kamis lalu sejak pagi hingga pukul 17.00. Penertiban dilakukan 50 petugas satpol PP,” ujarnya.

Tiangsa menambahkan, penertiban terhadap pedagang buah segar siap saji itu sudah melalui proses sosialisasi. ”Kami sudah melakukan langkah persuasif selama sepekan. Sebagian besar mereka mau mengerti. Hanya dua pedagang yang bandel sehingga kami terpaksa menyita gerobak mereka,” ujarnya.

Menurut rencana, pekan depan, Satpol PP Jakarta Timur akan menertibkan kawasan PKL di Jembatan Hitam, Jatinegara.

”Kami akan melibatkan warga sekitar semaksimal mungkin dalam penertiban ini. Insya Allah, semua berjalan lancar dan damai,” ucap Tiangsa.

Wali Kota Jakarta Selatan Syaiful Effendi yang dihubungi terpisah kemarin mengatakan, pekan ini pihaknya akan melakukan serangkaian penertiban PKL, terutama yang mangkal di persimpangan jalan, taman, dan trotoar.

”Yang akan melakukan penertiban bukan cuma satpol PP, tetapi juga tim gabungan yang melibatkan petugas pertamanan, kebersihan, dan pendamping UKM (usaha kecil dan menengah),” paparnya.

Syaiful mengakui, pembentukan tim gabungan dilakukan untuk menghindari kesan seram satpol PP. ”Kami mau semua jajaran pemerintah kota bertanggung jawab dan terlibat penertiban,” katanya.

Bangunan liar

Di Kota Bambu Selatan, saluran air sepanjang 2 kilometer kembali bebas dari bangunan liar. Saluran selebar 1,5 meter itu terhubung dengan Kali Ciliwung.

Satiman (40), warga RT 10 RW 5, Kota Bambu Selatan, mengatakan, sudah 34 tahun saluran itu tak dikeruk karena banyak bangunan liar dibangun di atas saluran tersebut.

”Oleh karena itu, kami warga sekitar berharap, langkah pembongkaran terhadap puluhan bangunan di atas saluran air itu segera diikuti langkah pengerukan,” ujarnya.

Wakil Lurah Kota Bambu Selatan Nurdin mengatakan, sebenarnya, warga sejak pekan lalu sudah membongkar sendiri bangunan yang mereka dirikan di atas saluran air. ”Mereka melakukan bersama para petugas Suku Dinas PU Tata Air,” tuturnya.

Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Barat Heryanto yang memimpin pembongkaran bangunan liar di atas saluran air tersebut merasa senang dengan lancarnya proses penertiban itu. (WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau