KOMPAS.com — Pascahebohnya film Cowboys in Paradise yang mengisahkan kehidupan para gigolo di Pantai Kuta, Bali, kawasan itu kini mulai sepi dari kehadiran kaum pria yang biasanya menyanggong kedatangan turis wanita.
Cukup lengangnya kehadiran pria yang kerap dijuluki beach boys tersebut juga terkait dengan digelarnya operasi penertiban para gigolo oleh tim gabungan Satgas Pantai Kuta dan pihak kepolisian setempat.
Tim gabungan terlihat terus mengawasi kemungkinan munculnya kembali praktik lelaki tunasusila atau gigolo di kawasan pantai yang banyak dikunjungi turis mancanegara itu.
Sejumlah anggota Polri dan satgas lengkap dengan atribut di bagian busananya mondar-mandir melakukan patroli di garis pantai yang memanjang kurang lebih 7 kilometer.
Bendesa Adat Kuta Gusti Ketut Sudira mengakui kalau satgas yang bertugas melakukan upaya pengamanan di pantai tersebut terus melakukan pangawasan terhadap kemungkinan munculnya kembali praktik gigolo pascadilakukannya penertiban.
Penertiban yang dilakukan belakangan ini sedikitnya berhasil menjaring 20 orang yang diduga telah bertindak selaku lelaki "penghibur" bagi wisatawan perempuan yang sedang menikmati libutan di Kuta.
Langkah penertiban itu dilakukan satgas menyusul timbulnya aksi protes sejumlah kalangan terhadap film Cowboys in Paradise, yang mengisahkan tentang seluk-beluk kehidupan para gigolo di Pantai Kuta.
Sejumlah aktor yang membintangi film tersebut terlihat orang yang umumnya berkulit hitam mengilap sebagaimana umumnya beach boys yang selama ini banyak berkecimpung dan bercengkerama dengan turis di Kuta.
Namun, Bendesa Adat Kuta membantah warganya ada yang ambil bagian sebagai aktor dalam film kontroversial itu.
"Setelah kami telusuri, tidak ada warga kami yang terlibat, baik selaku kru maupun aktor yang berperan dalam film yang diberi judul Cowboys in Paradise itu,” kata pemimpin desa adat di Kuta tersebut.
Bendesa Adat Sudira tidak menampik kalau di wilayahnya memang ada praktik para gigolo yang selama ini melayani turis wanita dari sejumlah negara.
"Praktik itu memang ada, bahkan sudah ada sejak kurang lebih 20 tahun silam, yakni sejak Kuta mulai berkembang menjadi sebuah destinasi wisata favorit dunia,” ucapnya.
Namun, Sudira membantah kalau para lelaki tunasusila itu adalah pria yang berasal dari Pulau Dewata, terlebih dari daerah Kuta sendiri.
"Tidak, tidak ada warga pria kami yang berpraktik mesum seperti itu," kata Sudira. Ia menambahkan, sejauh ini yang berprofesi sebagai pria "penghibur" adalah orang yang berasal dari luar Bali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang