PM Brown Bersedia Mundur

Kompas.com - 12/05/2010, 04:20 WIB

London, Selasa - Demi menjaga peluang Partai Buruh tetap berkuasa, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyatakan siap mundur sebagai ketua partai pada September mendatang.

Setelah pengumuman Brown tersebut, Partai Demokrat Liberal pimpinan Nick Clegg membuka pembicaraan formal untuk mengupayakan kesepakatan pembentukan pemerintahan bersama, Selasa (11/5). Selama beberapa hari sebelumnya, Demokrat Liberal telah mengadakan pembicaraan dengan Partai Konservatif pimpinan David Cameron yang meraih kursi terbanyak dalam pemilu parlemen pada 6 Mei.

Pemerintahan koalisi harus dibentuk sebagai alternatif pemerintahan baru Inggris setelah tidak ada pemenang mayoritas dalam pemilu. Dalam situasi parlemen menggantung (hung parliament), Brown masih memerintah dan diperbolehkan untuk membentuk pemerintahan terlebih dulu kendati partainya hanya berada di urutan kedua. Konservatif baru bisa membentuk pemerintahan minoritas jika Brown mundur sebagai PM.

Brown menerima kesalahan yang ditimpakan padanya atas perolehan Partai Buruh yang kehilangan 91 kursi di parlemen. ”Sebagai pemimpin partai, saya harus menerima bahwa ini adalah penghakiman atas diri saya,” ujar Brown.

Kritis

Demokrat Liberal yang berada di tempat ketiga menjadi rebutan Konservatif dan Buruh. Hingga kemarin, Demokrat Liberal belum memutuskan akan memberikan dukungan kepada siapa.

Clegg mengatakan, pembicaraan telah memasuki fase kritis dan final. Partainya akan melakukan peran mereka untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan stabil.

Banyak anggota senior Demokrat Liberal yang dekat dengan Partai Buruh. Akan tetapi, Clegg harus mempertimbangkan apakah koalisi dengan Partai Buruh akan menciptakan pemerintahan yang stabil.

Perolehan Buruh (258 kursi) ditambah perolehan Demokrat Liberal (57 kursi) belum bisa mencapai mayoritas 326 kursi yang diperlukan untuk meloloskan perundang-undangan dengan mulus dan harus mengandalkan dukungan partai-partai kecil. Jika bergabung dengan Konservatif (306 kursi), Demokrat Liberal bisa turut menciptakan pemerintahan yang stabil.

Partai Buruh telah menyatakan akan memberi kompromi lebih besar atas tuntutan Demokrat Liberal soal reformasi sistem pemilu, yaitu melalui referendum. Konservatif juga menaikkan tawaran dengan janji menggelar referendum.

Demokrat Liberal memiliki aliansi yang lebih dekat dengan Buruh. ”Jika Anda bertanya kepada pemilih Demokrat Liberal siapa yang mereka inginkan untuk berkoalisi, biasanya sekitar 2:1 mereka memilih Buruh dibandingkan Konservatif,” kata Andrew Hawkins, pemimpin lembaga jajak pendapat ComRes.

Saatnya memutuskan

Kemarin Cameron mengatakan, sekarang saatnya bagi Demokrat Liberal untuk memutuskan. ”Sekarang, saya yakin, adalah waktu bagi Demokrat Liberal untuk memutuskan. Dan saya harap mereka akan membuat keputusan yang benar untuk memberi negara ini pemerintahan yang stabil dan kuat dan sangat diperlukan dengan segera,” katanya.

William Hague, anggota parlemen senior dari Konservatif, mengatakan, dengan situasi sekarang, tampaknya sulit bagi Konservatif untuk membentuk pemerintahan minoritas sendiri. Skenario itu tidak memungkinkan mereka bertahan dari mosi tidak percaya.

Namun, menurut dia, pemilih tidak menginginkan lagi pemimpin yang tidak terpilih. Brown mendapat kekuasaan dari mantan PM Tony Blair, tetapi tidak dipilih.

Anggota senior Konservatif Sir Malcolm Rifkind mengatakan, dia sedih, depresi, dan marah atas situasi saat ini. Dia mengatakan, Clegg berlaku tidak hormat. Partai Clegg telah menghabiskan lima hari membahas pilihan. (ap/reuters/bbc/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau