Teroris cawang

Warga Menyemut, Cawang Macet

Kompas.com - 12/05/2010, 17:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi penyergapan terhadap tiga orang yang diduga kelompok teroris membuat warga penasaran. Ratusan warga menyemut di lokasi tempat penyergapan yang terjadi Rabu (12/5/2010) sekitar pukul 12.00 tadi. Akibatnya, lalu lintas di Jalan Mayjen Sutoyo, Cawang, antara Universitas Kristen Indonesia dan Cililitan macet total.

Kemacetan panjang terjadi di jalur arah Cililitan menuju UKI, sedangkan arah sebaliknya tersendat. Berbagai kendaraan yang melintas banyak berhenti di tengah jalan untuk menonton lokasi kejadian yang dipadati oleh warga.

Warga tampak penasaran ingin tahu kejadian yang sempat diwarnai baku pukul dan penembakan itu. Sementara di lokasi penembakan, tak jauh dari Gedung Asabri, masih terlihat bercak darah dari orang yang diduga teroris tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam penggerebekan di Cawang itu, satu orang tewas di tembak anggota Densus 88 Antiteror. Dua lainnya berhasil dilumpuhkan.

Rudi, salah seorang saksi mata, menuturkan, kejadian berlangsung begitu cepat. Seusai menyergap ketiga orang tersebut, Densus langsung membawanya tanpa memberikan keterangan kepada warga yang terkaget-kaget.

Hingga berita ini diturunkan, lokasi kejadian masih tidak dijaga oleh polisi dan belum dipasangi garis polisi. Tampak hanya sejumlah polisi lalu lintas sibuk mengatur arus kendaraan yang lewat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau