JAKARTA, KOMPAS.com — Tugas petugas sensus untuk mendata penduduk ternyata tidak hanya terkendala faktor penolakan warga dan ketiadaan pemilik rumah karena kesibukan sehari-hari. Beberapa rumah warga yang dijaga anjing juga menyulitkan kerja petugas di lapangan.
Bahkan, dua petugas sensus di Jakarta Selatan telah menjadi korban akibat kebuasan anjing penjaga rumah tersebut.
Peristiwa naas yang menimpa dua petugas sensus ini terjadi saat mereka mendata warga di Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kedua petugas itu bernama Syaifullah dan Ahmad Basuki.
"Keduanya langsung dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan perawatan medis. Mereka disuntik vaksin antirabies," ujar Danang Satria, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta Selatan, Rabu (12/5/2010).
Saat kejadian, kata Danang, tujuh anjing itu tidak diikat oleh pemilik rumah. Dengan demikian, saat masuk ke halaman rumah, petugas langsung digigit oleh anjing-anjing tadi.
"Para petugas sudah diasuransikan. Jadi, pengobatannya masuk tanggungan asuransi, sedangkan pemilik rumah tidak mau bertanggung jawab," sesalnya.
Hebatnya, meskipun telah digigit anjing, kedua petugas masih melaksanakan tugas-tugasnya. Mereka mengalami demam akibat gigitan anjing tersebut.
"Saya angkat topi terhadap petugas-petugas sensus. Meskipun banyak kendala, mereka tetap bertanggung jawab dengan tugasnya," puji Danang.
Danang juga telah berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk memberitahukan kepada warga yang memiliki hewan peliharaan agar mengikatnya. Dengan demikian, peristiwa serupa diharapkan tidak kembali terjadi.
"Kami sudah berkoordinasi dengan lurah untuk mengimbau kepada warganya, menjaga hewan peliharaannya," ujarnya.
Terkait pelaksanaan sensus, Danang mengaku telah mendaftar warga sebanyak 80 persen. Hal itu dikarenakan sulitnya melakukan sensus di perumahan elite, seperti di bilangan Grogol Utara dan Permata Hijau. Terlebih, pada umumnya di sepuluh kecamatan yang ada di Jakarta Selatan terdapat perumahan elite yang sulit dijangkau.
“Perumahan elite di bilangan Pondok Indah termasuk yang welcome terhadap sensus penduduk ini. Bahkan, warga secara swadaya memasang spanduk informasi sensus penduduk. Spanduk-spanduk itu dapat ditemui di RW 015 dan 016 Pondok Indah. Animo masyarakat di lokasi itu sudah cukup baik," ungkapnya.
Selain itu, untuk mengantisipasi terganggunya sensus di apartemen, Danang mengatakan, pihaknya juga bekerja sama dengan pengelola. Untuk mempermudah penghuni apartemen, mereka diberi kuesioner khusus yang lebih sederhana. Dengan demikian, penghuni dapat mengisi sendiri kuesioner tersebut.
"Dari 97 apartemen yang ada di Jakarta Selatan, sekitar 20 persennya sudah disensus," terangnya.
Pihaknya juga mengagendakan sensus untuk para tunawisma, seperti pemulung dan gelandangan, yang dijadwalkan pada 15 Mei mendatang. Sekitar 20 titik akan menjadi sasaran petugas sensus di Jakarta Selatan. Titik-titik itu meliputi wilayah Tebet, yaitu di sekitar Stasiun Cawang, Stasiun Tebet, Stasiun Manggarai, Pasar Tebet Barat, Pasar PSPT, Pasar Bukit Duri, dan di bawah Jembatan Ciliwung.
Di Pasar Minggu, titik sensus di sekitar Stasiun Pasar Minggu, Terminal Pasar Minggu, dan Terminal Ragunan.
Di Cilandak, titik sensus di sekitar Terminal Lebak Bulus, Pasar Pondok Labu, Pasar Mede, dan D`best.
Adapun di Setiabudi, titik sensus di kolong Jembatan Rasuna Said.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang