Gangguan cuaca

Hujan Terus, Bawang Merah Rusak

Kompas.com - 14/05/2010, 05:04 WIB

Tegal, Kompas - Akibat hujan terus-menerus dalam beberapa hari terakhir, tanaman bawang merah di sebagian wilayah Kota Tegal dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, rusak. Misalnya, di Kelurahan Kalinyamat Kulon dan Cabawan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal, serta di Desa Dukuhturi dan Sidakaton, Kabupaten Tegal, Kamis (13/5).

Daun bawang meranggas dan layu, sebagian lain ambruk. Kondisi itu diperparah dengan serangan hama ulat. Sebagian tanaman yang rusak terkena hujan dan terserang ulat saat ini berusia sekitar 40 hari, sebagian lain berusia 55 hari atau siap panen.

Menurut Abdul Syukur (38), petani di Kelurahan Kalinyamat Kulon, ulat masuk ke daun bawang sehingga tanaman layu. Akibatnya, pertumbuhan bawang merah tidak optimal. Dari 1 hektar tanaman yang terkena hujan dan diserang ulat, hanya dihasilkan 5 ton bawang merah. Padahal, dalam kondisi normal, bisa dihasilkan sekitar 8 ton bawang merah.

Wondo (38), petani lain, mengatakan, sesuai dengan siklus tahunan, seharusnya pada April hingga Mei hujan jarang turun. Namun, April lalu hujan masih sering turun di Tegal. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir hujan turun terus-menerus. ”Untuk tanaman bawang merah, hujan termasuk merusak. Meski sedikit, kalau terus-menerus tidak baik untuk tanaman,” katanya.

Sartono (40), petani lainnya, mengatakan, selain faktor cuaca tidak menentu, petani juga terbebani kenaikan harga pupuk.

Banjir

Selain merusak tanaman, hujan sejak Rabu malam juga mengakibatkan sekitar 200 rumah di Desa Bojongsari, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, kebanjiran.

Koordinator Tim SAR Brebes Adhe Danie Rahardjo mengatakan, banjir terjadi akibat luapan Sungai Cisanggarung yang membatasi Kabupaten Brebes dengan Kabupaten Cirebon.

Tinggi air di pemukiman warga berkisar 30-50 sentimeter. Namun, banjir bersifat sesaat karena merupakan banjir limpasan. Menurut Adhe, air Sungai Cisanggarung meluap karena pintu pembuangan hilang.

Di Kabupaten Semarang, hujan deras yang mengguyur mulai hari Selasa sore hingga Rabu (12/5) menyebabkan tanah longsor, yang kemudian menimpa rumah warga di Desa Samirono, Kecamatan Getasan. Talut sepanjang 10 meter longsor dari ketinggian sekitar 6 meter hingga mengenai ruang tamu rumah warga di bawahnya.

Selain itu, tiga rumah di Kelurahan Nanggulan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, rusak. Rumah itu berada di tebing. Akibat gerusan air hujan, tebing sepanjang 20 meter dengan ketinggian 8 meter ambrol. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Menurut Andriana (33), warga Samirono, seharusnya pada April-Mei sudah mulai memasuki musim kemarau, tetapi kenyataannya hujan deras masih mengguyur kawasan lereng Gunung Merbabu itu.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Semarang Suryawan Sunu Riyanto mengatakan, seharusnya berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, mulai April curah hujan di Kabupaten Semarang normal, berkisar 200 milimeter, tetapi hingga saat ini masih kerap terjadi hujan deras.

”Karena itu, potensi bencana masih cukup besar akibat cuaca ekstrem,” katanya. (WIE/GAL))

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau