Netanyahu Kutip Injil untuk Klaim Jerusalem

Kompas.com - 14/05/2010, 06:08 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Rabu (12/5/2010), menggunakan Perjanjian Lama untuk menegaskan klaim Yahudi atas wilayah Jerusalem, yang juga diklaim Palestina untuk menjadi ibu kota negara merdeka mereka di kemudian hari.

Di depan pertemuan parlemen untuk memperingati pendudukan Israel atas Jerusalem Timur dari Jordania pada perang 1967, Netanyahu menyebutkan,  "Jerusalem" atau "Zion" muncul sebanyak 850 kali dalam Perjanjian Lama.

Dengan mengutip kitab tersebut, ditegaskan oleh PM Israel itu, klaim atas keseluruhan Jerusalem adalah "abadi dan tidak bisa dipisahkan". Namun, hal itu tidak serta-merta diakui negara-negara lain. Penerjemahan harfiah atas Perjanjian Lama itu juga ditolak oleh sebagian Kristen.

Masyarakat dunia mendukung klaim bahwa Jerusalem Timur adalah ibu kota negara masa depan Palestina.

Menanggapi dikutipnya kitab suci oleh Netanyahu, ketua juru runding Palestina, Saeb Erekat, mengatakan, pernyataan Netanyahu itu sangat memprihatinkan dan penggunaan unsur agama bisa menyulut kebencian dan ketakutan. "Jerusalem Timur adalah kota Palestina yang diduduki, dan Jerusalem tidak bisa terus-menerus diduduki jika memang ingin ada perdamaian," tegasnya.

Netanyahu dan mitra koalisinya juga bertekad meneruskan pembangunan rumah-rumah warga Yahudi di Jerusalem Timur dan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dengan atau tanpa izin.

"Tidak ada dan tidak akan pernah ada pembekuan konstruksi di Jerusalem. Kami akan membangun di ibu kota tanah air abadi bangsa Yahudi, dan saya telah menegaskan hal ini kepada mitra kami Amerika Serikat dan kawan-kawan lainnya," kata Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai. (AP/AFP/Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau