Bandung, Kompas - Apoteker di seluruh Indonesia diharapkan memanfaatkan potensi hayati lokal untuk menemukan sumber obat baru. Selain mampu memberikan sumbangan bagi farmasi dunia, hal ini juga baik untuk mendayagunakan kekayaan alam Indonesia.
"Banyak pakar obat dan kesehatan atau perusahaan farmasi internasional meneliti tentang kekayaan alam Indonesia, baik sumber daya alam maupun kearifan lokalnya untuk mencari obat baru," ujar Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Sri Indrawati dalam acara pengambilan sumpah apoteker Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Rabu (12/5).
Sri mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dengan 30.000 jenis tumbuhan. Dari jumlah itu, 9.600 jenis di antaranya bisa digunakan untuk obat. Namun, baru 300 jenis tumbuhan yang sudah digunakan dalam industri pembuatan obat.
Fakta tersebut, ujar Sri, berpotensi untuk terus dikembangkan, terutama dalam menghasilkan produk baru. Alasannya, bahan tradisional sekarang menjadi salah satu komoditas utama yang digunakan perusahaan farmasi di berbagai negara untuk dikembangkan jadi obat. Buktinya, banyak perusahaan asing menyewa peneliti asal Indonesia untuk mencari alternatif pembuatan obat dari tumbuhan.
Selain itu, pasar obat dari bahan tradisional juga semakin terbuka lebar setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan obat tradisional untuk pengobatan penyakit kronis dan degeneratif.
"Hal ini tentu menjadi tantangan bagi apoteker Indonesia untuk mengelaborasi kemampuannya menemukan obat dari bahan-bahan tradisional. Kemenkes berjanji memfasilitasi inovasi itu," ujar Sri. Rektor ITB Ahmaloka dalam sambutannya mengharapkan agar kemampuan apoteker diimbangi dengan penguasaan teknologi dan pengetahuan bahan-bahan tradisional. Perpaduan keduanya diharapkan menjadi bekal bagi apoteker untuk melayani kebutuhan masyarakat.
44 apoteker
Dalam pengambilan sumpah ini, ITB berhasil meluluskan 44 apoteker angkatan 2009/2010. Bendahara Ikatan Apoteker Indonesia Ita Hutagalung mengharapkan agar keberadaan mereka bisa melengkapi kebutuhan apoteker di Indonesia yang jumlahnya masih terbatas.
Ita mengatakan, saat ini apoteker Indonesia diperkirakan berjumlah 30.000 orang yang harus melayani sekitar 250 juta penduduk. Artinya, seorang apoteker harus melayani sekitar 8.300 orang. Padahal, idealnya dibutuhkan 100.000 apoteker.
"Secara umum mungkin tidak mengganggu distribusi obat. Namun, kemampuan apoteker memberikan informasi atau melayani konsultasi obat dengan masyarakat akan terhambat. Apoteker hanya menjadi orang yang memberikan obat," ujarnya. (CHE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang