WASHINGTON, KOMPAS.com - Amerika Serikat, Jumat (14/5), mendesak semua pihak yang terlibat dalam krisis politik di Thailand untuk menahan diri dan menyelesaikan perbedaan di antara mereka secara damai.
Pasukan keamanan Thailand menembaki para pengunjuk rasa, Jumat, setelah pihak militer mengepung tempat para pengunjuk rasa yang luas di jantung kota Bangkok sehingga memicu pertempuran sengit yang menewaskan 10 orang dan melukai 125 orang lainnya. "Kami sangat prihatin dengan situasi di Thailand," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Philip Crowley, kepada wartawan.
"Kami terus mendorong setiap pihak yang terlibat untuk menahan diri dan mencari jalan bekerja secara damai melalui perbedaan-perbedaan ini dan melakukannya dengan cara yang memperkuat lembaga-lembaga demokratis," tambah Crowley.
Bentrokan di Bangkok itu terjadi setelah Perdana Menteri Thailand, Abhisit Vejjajiva, menangguhkan rencana pemilihan umum bulan November dan harapan pun pudar bagi tercapainya resolusi atas krisis politik yang telah berjalan dua bulan serta melumpuhkan dan telah memicu kekerasan.
Amerika Serikat, Kamis, menutup kedutaannya di Bangkok dan mengatakan pihaknya sangat prihatin atas kekerasan antara pemerintah Thailand dengan para pengunjuk rasa. Crowley mengatakan, kantor kedutaan akan ditutup hingga akhir pekan dan mungkin sampai Senin depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang