Kongres partai demokrat

Adem Ayem atau Berdarah-darah?

Kompas.com - 15/05/2010, 15:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — "Kongres Partai Demokrat, 21-23 Mei 2010, tak akan berlangsung 'adem ayem' seperti Kongres PDI-P di Bali atau akan 'berdarah-darah' seperti Musyawarah Nasional Golkar di Pekanbaru," kata seorang tokoh Partai Demokrat di Jakarta, belum lama berselang.

Ucapan "gagah berani" itu dikemukakan sekretaris tim pemenangan calon ketua umum Partai Demokrat Andi Mallarangeng, Ramadhan Pohan, ketika bertemu dengan para wartawan.

Apakah maksudnya "adem ayem" ataupun "berdarah-darah"?

Ramadhan Pohan, yang pernah memimpin surat kabar Jurnal Nasional, kemudian berusaha memberi penjelasan tentang pernyataannya itu yang bisa ditafsirkan bermacam-macam.

"Ketika Kongres PDI-P di Bali, maka jauh hari sebelum pertemuan itu berlangsung, sudah ketahuan bahwa ketua umumnya adalah tetap Megawati Soekarnoputri. Sedangkan pada Musyawarah Nasional Golkar di Pekanbaru, terjadi suasana yang begitu panas," demikian uraian Ramadhan.

Sampai saat ini, menjelang hari-hari terakhir Kongres Partai Demokrat di Bandung, masih tetap terdapat tiga nama kandidat, yakni Andi Mallarangeng yang merupakan Menpora, kemudian Anas Urbaningrum yang dikenal sebagai Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokrat merangkap Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, serta mantan Sekjen DPP Partai Demokat Marzuki Alie yang kini menjadi pemimpin lembaga negara DPR.

Sampai sekarang, ketiga calon ketua umum ini masih terus melakukan berbagai manuver untuk menarik perhatian para peserta kongres yang mempunyai hak suara.

Andi-lah yang pertama kali melakukan deklarasi secara resmi sebagai kandidat dengan jumlah undangan yang tidak tanggung-tanggung di Jakarta, mulai dari Wakil Ketua MPR dari Partai Demokrat Melani Leimena Suharli, hingga Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi EE Mangindaan.

Sementara itu, tokoh yang paling membetot perhatian pada acara deklarasi itu adalah kehadiran Edhie Baskoro, yang merupakan putra kedua Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Edhie Baskoro, yang sapaan akrabnya adalah Ibas, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Andi Mallarangeng.

Sementara itu, kandidat lainnya, Anas Urbaningrum, juga telah mendeklarasikan dirinya, tetapi tanpa kehadiran para dedengkot Partai Demokrat. Sedangkan Marzuki Alie sampai sekarang masih belum terdengar deklarasinya.

Ketiga tokoh ini telah berulang kali melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk "memasarkan dirinya" kepada para peserta kongres Bandung serta simpatisan partai ini.

Dalam satu kesempatan, Ramadhan juga berkata bahwa sampai saat ini sudah sekitar 89 persen DPD dan DPC menyatakan akan mendukung Andi dalam kongres di Bandung. Dengan demikian, berarti belum semua peserta kongres akan memilih Andi.

Akan tetapi, kemudian muncul pernyataan seorang tokoh bahwa Andi akan terpilih secara aklamasi. Kalau benar Menpora ini akan terpilih secara aklamasi maka berarti Anas dan Marzuki pasti akan "kalah" dalam pemilihan ini, apa pun juga bentuk pemilihannya.

Bahkan, Andi sendiri pernah berkata, "Jika Anas Urbaningrum mau menjadi sekretaris jenderal, maka saya akan senang sekali."

SBY kunci
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono adalah dua di antara sejumlah pendiri partai ini menjelang Pilpres 2004 dan sekarang SBY pun tetap masih merupakan orang terpenting di partai ini. Sekalipun Hadi Utomo sampai saat ini masih merupakan Ketua Umum Partai Demokrat, tidak ada satu orang pun yang bisa membantah kenyataan di lapangan bahwa SBY tetap merupakan tokoh sentral atau kunci di Demokrat.

Kehadiran Edhie Baskoro dalam deklarasi Andi ditafsirkan banyak pihak bahwa SBY telah menentukan pilihannya kepada Andi, walaupun secara tidak langsung.

Namun, tentu para pendukung Anas serta Marzuki mengatakan bahwa keputusan tetap ada di tangan peserta kongres apakah memang akan memilih Andi, Anas, ataukah Marzuki. Anas dan Marzuki selalu mengatakan bahwa mereka pun didukung dan "direstui" Yudhoyono.

"Pertarungan" di Bandung memang masih satu minggu lagi. Namun, kemudian muncul dua nama baru yang diperkirakan bakal menjadi "kuda hitam", yakni mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto serta Letjen TNI (Purn) Erwin Sudjono. Djoko Suyanto adalah wakil ketua tim sukses pilpres-nya Yudhoyono, sedangkan Erwin Sudjono adalah ipar SBY.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah SBY akan membiarkan seluruh peserta untuk menentukan pilihannya sendiri ataukah Ketua Dewan Pembina ini akan mengeluarkan sabdo pandito atau perintah untuk memilih calon tertentu.

Kalau SBY memberi kebebasan penuh kepada peserta kongres untuk menentukan sendiri pilihannya, pertemuan ini pasti akan seru sekali sehingga bisa muncul "kuda hitam".

Namun, kalau sebaliknya SBY sudah memberikan "perintah" tentang siapa yang harus dipilih, kongres ini akan berjalan mulus atau tanpa hambatan apa pun.

Karena itu, para peserta kongres, pengamat politik serta orang awam sedang menunggu apakah SBY menyerahkan pengambilan keputusan kepada para peserta—dengan risiko munculnya berbagai hal yang tidak terduga—ataukah Ketua Dewan Pembina akan memberikan "arahan" sehingga kongres akan berlangsung mulus bagaikan aliran air di sungai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau