SUMEDANG, KOMPAS.com — Walau longsor sudah berlangsung sejak sore dan kemacetan juga sudah menjadi-jadi sampai berkilo-kilometer, penanganan longsor tetap tak memadai. Berdasarkan informasi dari para pejalan kaki yang melewati salah satu titik longsor, penanganan longsor hanya menggunakan cangkul.
"Tadi saya lihat hanya menggunakan cangkul untuk mengeruk longsoran. Alat berat tidak terlihat, saya dengar alat berat tidak sedang berada di lokasi. Harusnya standby, tapi katanya kemarin malah dibawa ke Sumedang," kata seorang warga yang melintas pada Sabtu (15/5/2010) malam ini.
Hingga saat ini, Tim Survei Kompas untuk Jelajah Sepeda Jakarta-Surabaya masih berada di belakang longsoran atau belum mencapai titik longsoran karena parahnya kemacetan di jalur yang meliuk-liuk naik turun ini. Longsor terjadi di jalur Bandung-Sumedang, sekitar 30 kilometer dari Bandung atau sekitar 16 kilometer dari Sumedang.
Bahkan, sepeda motor tidak bisa melewati jalan yang terkena longsor dan banyak yang terpaksa menembus jalan pintas lewat jalan-jalan kampung yang terjal. Sebagian kendaraan sejak sore sudah berbalik arah, mengurungkan niatnya menuju Sumedang dan berbalik menuju Bandung. Para sopir kendaraan hanya menunggu datangnya alat berat untuk memulihkan jalur yang terkena longsor.
Hingga Sabtu pukul 21.30, ketika berita ini dibuat, di ruas jalan yang terkena macet, warga yang ingin pergi ke Sumedang atau sebaliknya terpaksa berjalan kaki belasan hingga puluhan kilometer.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang