SINGAPURA, KOMPAS.com - Harga minyak turun sebentar di bawah 70 dollar AS per barrel di perdagangan Asia, Senin (17/5/2010), sebelum kembali memperoleh pijakan karena berlanjutnya pelemahan euro terhadap dollar AS.
Kontrak utama minyak mentah jenis "light sweet crude" di New York untuk pengiriman Juni anjlok ke level terendah harian sebesar 69,82 dollar AS per barrel. Namun, harga itu kembali ke 70,43 dollar AS per barrel pada perdagangan tengah hari, masih turun 1,18 dolar dari penutupan di AS pada hari Jumat.
Harga minyak mentah Laut Utara Brent untuk pengiriman Juli juga turun 1,43 dolar menjadi 76,50 dollar AS.
Pasar minyak pekan lalu terus menurun, dengan euro terjun ke level terendah selama empat tahun terhadap dollar AS di perdagangan Tokyo yang berubah-ubah, Senin, karena besarnya kekhawatiran atas utang kawasan euro yang terus menekan mata uang tunggal.
Mata uang ini jatuh ke level terendah sebesar 1,2234 dollar AS di perdagangan pagi Tokyo, turun dari 1,2358 di New York Jumat malam di tengah memuncaknya pengambilan risiko.
Ini adalah level terendah sejak April 2006, ketika mata uang tunggal itu merosot semakin dalam pada Oktober 2008 setelah runtuhnya raksasa perbankan Lehman Brothers. "(Salah satu) faktor yang menekan harga minyak adalah terus menguatnya dollar AS terhadap euro," kata David Moore, commodity strategist Bank Commonwealth of Australia yang berbasis di Sydney.
"Pada dasarnya, pasar minyak tidak terlalu ketat sehingga mereka
rentan terhadap sentimen negatif dan itulah sebenarnya yang telah terjadi," katanya pada AFP.
Menguatnya dollar AS membuat harga minyak mentah dalam dollar AS lebih mahal untuk para pembeli yang menggunakan mata uang lemah, melekuknya permintaan menyebabkan harga minyak lebih rendah.
Moore mengatakan harga kemungkinan terus turun karena pasar berada "dalam periode yang berubah-ubah dan ketidakpastian yang cukup besar".
Harga minyak telah turun sekitar 17 dollar AS, atau hampir 20 persen, setelah menyentuh level tertinggi selama 19 bulan pada 3 Mei sebesar 87,15 dollar AS per barrel.
Pasar juga berada di bawah tekanan karena meningkatnya persediaan minyak mentah di AS, menunjukkan melambatnya permintaan di negara konsumen minyak terbesar di dunia.