KOMPAS.com — Tanyakan kepada warga Bangkok, baik yang simpati dengan Kaus Merah maupun yang mendukung pemerintah, nama Seh Daeng. Sudah pasti hampir seluruhnya dari mereka bakal menunjuk sosok yang akhirnya meninggal dunia pada Senin (17/5/2010) itu.
Dalam bahasa Thai, Seh Daeng sama artinya dengan Komandan Merah. Maka, tak mengherankan kalau pria kelahiran 2 Juni 1951 ini dianggap sosok paling berpengaruh alias nomor satu di antara para pemrotes antipemerintah, Kaus Merah.
Sejumlah media massa Thailand seperti Thai Rath ataupun The Nation bahkan sempat menulis kalau desain barikade dari tumpukan ban dan kayu bekas yang dipasang di kawasan bisnis Bangkok adalah rancangan pria bernama asli Khattiya Sawasdipol ini. Barikade itu dipakai untuk menahan gempuran aparat militer Thailand yang mengantongi surat tugas dari Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva untuk menumpas demonstrasi.
Mayor Jenderal Khattiya Sawasdipol bukan orang asing di militer Negeri Gajah Putih. Soalnya, dia juga menjadi nomor satu di Komando Operasi Keamanan Internal Thailand. Ini jabatan terakhir yang diembannya tatkala maut menjemputnya.
Tak cuma itu, sepak terjang Khattiya yang piawai menulis itu lumayan bikin geleng-geleng kepala. Dalam salah satu buku terlarisnya yang ditulisnya dalam bahasa Thai, Khattiya pernah mengklaim ikut berperan dalam Perang Vietnam.
Alkisah, Khattiya muda menjadi mata-mata Uwak Sam (US) di Negeri Paman Ho, kala itu. Ia masuk dalam kelompok Perang Rahasia binaan AS yang bertugas memerangi kaum komunis Vietnam.
Tak tanggung-tanggung, lokasi baku tembak yang diakrabi Khattiya adalah Plain of Jairs alias situs purbakala tiga tempayan batu raksasa yang legendaris itu. Sampai sekarang, wisatawan yang bertandang ke situs yang terletak di Phonsavan, Laos, tersebut masih harus ekstrahati-hati. Soalnya, masih banyak ranjau darat aktif di area tersebut.
Pada bagian lain, Khattiya yang suka memakai topi lapangan dengan pin granat itu ternyata pernah menjejakkan kaki di Aceh. Saat Serambi Mekkah masih membara gara-gara perseteruan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melawan pemerintah Republik Indonesia (RI), lagi-lagi Khattiya sukses melakukan penyusupan ke tubuh GAM. Khattiya dengan lihai mengaku beragama Islam.
Aerobik
Ulah lain yang mendaulat nama Khattiya makin moncer adalah kebiasaannya tampil di televisi. "Dia bak selebriti," begitu komentar pengagumnya.
Nah, untuk soal "banci tampil" memang ada sedikit cerita. Sekitar tiga tahun lalu, atasan Khattiya, Jenderal Anuphong Paochinda, mengangkatnya sebagai guru aerobik. Tugas dari Panglima Angkatan Bersenjata Thailand itu memang langsung disambar Khattiya. "Komandan ingin saya menjadi pemimpin dalam pertunjukan aerobik," kata Khattiya.
So, agar makin benar-benar membuat khalayak kesengsem, Khattiya juga menciptakan gerakan aerobik anyar, namanya "lemparan granat tangan".
Khattiya sempat juga mencatatkan namanya di publik Thailand saat dirinya saling tuding dengan Kepala Kepolisian Jenderal Seri Temiyavet. Waktu itu, pada 2006, ada penyelidikan besar-besaran soal perjudian. Gara-gara permusuhan itu, Khattiya sempat mendekam di penjara selama empat bulan.
Seusai dibebaskan, giliran Khattiya yang menggugat balik Jenderal Seri. Petinggi polisi itu mesti membayar 600 juta baht atas tuduhan pencemaran nama baik dan fitnah.
Urusan Khattiya yang bersenggolan dengan Pemerintah Thailand justru terjadi pada 18 Oktober 2008. Ia mengatakan bakal membawa ribuan pendukung pemerintah berhadap-hadapan dengan militer yang mencoba-coba melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Somchai Wongsawat.
Tahun lalu, tepatnya pada 14 Januari, Jenderal Anupong Pauchinda akhirnya mengerem kegiatan Khattiya. Ia memerintahkan agar anak buahnya itu tidak lagi berhubungan dengan Aliansi Demokratik Melawan Kediktatoran (DAAD). Kelompok ini berseberangan dengan pemerintah.
Paling bontot, Khattiya terlihat tengah meladeni wawancara dengan seorang wartawan New York Times pada siang menjelang sore di persimpangan Stasiun Monorel Daeng Sky, Kota Bangkok. Tanggal pasnya, Kamis (13/5/2010).
Naas, sebutir peluru diduga dari penembak gelap menembus kepalanya. Khattiya pun rebah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Huachiew untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, hingga Senin (17/5/2010) pukul 09.20, nyawanya tak berhasil diselamatkan. Seh Daeng meninggal dunia di tengah sangkalan pihak militer yang sempat dituding menjadi dalang penembakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang