Kerusuhan bangkok

SBY Minta ASEAN Sikapi Situasi Thailand

Kompas.com - 17/05/2010, 20:14 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyurati Ketua ASEAN agar yang bersangkutan dapat mengumpulkan pemimpin-pemimpin negara Asia Tenggara guna menyikapi situasi keamanan di Thailand.

Dalam konferensi pers di sela-sela kunjungan kerja di Singapura, Senin (17/5/2010) malam, Presiden mengatakan, ASEAN perlu memiliki posisi bersama yang konstruktif sehubungan dengan peristiwa yang berkembang di Thailand.

"Ketika situasi seperti ini dan dunia telah memberi perhatian, mengeluarkan statement tentu tidak baik kalau ASEAN do nothing. Saya berpendapat harus ada tukar pikiran, kita harus tunjukkan kepedulian kita," tutur Presiden.

Apalagi, ujar Kepala Negara, ASEAN telah memiliki piagam yang berkeinginan membentuk satu komunitas bersama pada tahun 2015.

Tanpa masuk terlalu jauh ke dalam urusan dalam negeri Thailand, Presiden mengatakan, ASEAN selayaknya memberikan dukungan kepada Pemerintah Thailand guna menyelesaikan masalah secara baik dan menjauhi segala bentuk kekerasan.

Presiden mengingatkan, krisis pada 1997/1998 pun berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand yang kemudian menjalar ke negara Asia lainnya, dan Indonesia terpukul paling hebat akibat krisis tersebut. "Barangkali krisis ini sekarang berbeda, tapi harus ada yang dilakukan secara konstruktif," ujarnya.

Presiden mencontohkan, negara-negara Uni Eropa langsung bertemu dan berkoordinasi untuk menyelamatkan salah satu anggotanya, Yunani, yang mengalami krisis akibat terbelit utang.

ASEAN pun, menurut Presiden, bisa melakukan hal serupa untuk membantu Thailand mengatasi krisis politik yang berlanjut pada gangguan keamanan.

Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Botanic Garden Singapura, Presiden juga membahas masalah Thailand dengan PM Singapura.

Ketua ASEAN saat ini dijabat oleh Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand baru mengeluarkan imbauan agar warga negara Indonesia di Thailand waspada dan menjauhi tempat-tempat aksi unjuk rasa dan kekerasan.

KBRI belum merasa perlu mengeluarkan imbauan agar WNI meninggalkan Bangkok. Kemenlu pun saat ini baru mengeluarkan travel advisory dan tidak mengeluarkan travel warning.

Menurut Marty, hingga saat ini belum ada laporan dari WNI yang bermasalah akibat dari gangguan keamanan di Bangkok. Di seluruh wilayah Thailand terdapat sekitar 1.000 WNI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau