Kenali Mitos Seputar Tidur

Kompas.com - 18/05/2010, 10:16 WIB

KOMPAS.com — Setiap hari, semua manusia di bumi pasti tidur. Walau begitu, masih banyak misteri yang belum terungkap tentang kondisi tanpa kesadaran ini. Misalnya, tentang apa yang sesungguhnya terjadi saat kita tertidur.

Ada berbagai mitos dan penjelasan tentang berbagai aspek tidur, mulai dari soal mimpi hingga apa yang dialami tubuh saat mata terpejam. Yang pasti, kebanyakan aspek seputar tidur bersifat individual, sebut saja soal batasan waktu ideal untuk tidur. Mengetahui sedikit saja tentang tidur mungkin akan membantu kita memahami fungsi tidur dan mendapatkan tidur berkualitas. Berikut beberapa mitos seputar tidur.

Setiap orang butuh tidur 8 jam pada malam hari
Delapan jam selama ini dianggap sebagai standar baku waktu tidur, padahal sesungguhnya jumlah waktu tidur tiap orang bervariasi. Kebanyakan orang tidur 7-9 jam, tapi tak sedikit yang cukup tidur 4 jam, dan yang lain lagi tidur hingga 12 jam baru merasa segar.

Meski begitu, kita bisa memperkirakan sendiri berapa waktu tidur yang dibutuhkan tubuh. "Memang tidak ada alat tes untuk mengetahui kebutuhan tidur. Namun, kuncinya adalah jika kita masih merasa lesu saat bangun, itu berarti kita kurang tidur," kata Philip Gehrman, direktur klinik masalah tidur di Amerika.

Kurang tidur tak pengaruhi aktivitas
Nyatanya memang ada orang-orang yang punya jam tidur lebih sedikit dibanding kebanyakan orang, tetapi mereka tetap berkegiatan secara normal. Menurut Gehrman, orang-orang dalam kelompok ini disebut juga "short sleepers".

Orang-orang yang mengklaim tidak tidur saat malam, ketika diobservasi di laboratorium tidur, ternyata sebagian otaknya "mati". Jadi, meski mereka tidak dalam kondisi sadar, mereka merasa sadar. "Bila mereka mengaku cuma tidur dua jam tapi tetap fit dalam berkegiatan, maka mungkin sebenarnya mereka tidur lebih lama dari itu," katanya.

Orang yang terbiasa tidur sebentar itu mungkin tetap fit. Namun, belum jelas juga apakah aktivitas mereka akan lebih optimal jika mereka tidur lebih lama lagi. Lagipula, tidur kurang dari empat jam mungkin masih bisa ditoleransi tubuh selama 2-3 hari saja sebelum berpengaruh pada kemampuan tubuh.

Makin tua, kebutuhan tidur berkurang
Yang pasti, semakin lanjut usia, makin banyak gangguan tidur yang dialami sehingga kuantitas tidur pun berkurang. "Waktu tidur pada malam hari mungkin lebih sedikit, tapi biasanya pada siang hari mereka juga tidur. Jadi, dalam 24 jam waktunya masih sama, sekitar 7-8 jam," kata dr Alon Avidan, ketua program gangguan tidur dari UCLA. Menganggap orang tua tidak perlu tidur cukup adalah mitos yang menyesatkan.

Tidur siang untuk "membayar" utang tidur
Bila kita sulit mencari pengganti tidur yang berkualitas pada malam hari, tidur siang bisa jadi solusi singkat untuk mengatasi rasa lelah dan kantuk di sela-sela aktivitas siang hari. Para ahli menyebutkan, tidur siang yang paling menyegarkan adalah antara pukul 1 dan 3 sore dengan durasi 15-20 menit. Tidur siang terlalu sore tidak disarankan karena akan membuat kita sulit tidur pada malam hari.

Memperpanjang tidur pada akhir pekan menyegarkan
Banyak orang memanfaatkan akhir pekan untuk mengganti waktu tidur yang kurang pada hari lain. Sebenarnya memperpanjang tidur 1-2 jam pada akhir pekan bermanfaat positif, asalkan memulainya tidak terlalu lama dari waktu tidur normal. Jangan sampai hari Minggu malam Anda justru sulit tidur karena pada Minggu pagi Anda bangun terlalu siang.

Olahraga sebelum tidur membuat nyenyak
Pada sebagian orang, olahraga sebelum tidur bisa membuat mata lebih cepat terpejam. Namun, tidak demikan halnya pada sebagian orang. Bagi Anda yang mengalami insomnia, tak ada salahnya bereksperimen dengan mencoba olahraga sebelum tidur. Dengan mencoba berbagai cara, kita bisa menemukan "pengantar" tidur yang paling tepat untuk kita.

Seks sebelum tidur bikin sulit tidur
Bila seks yang dilakukan kurang memuaskan, maka mungkin orang tersebut akan sulit memejamkan mata setelahnya. Namun, bagi sebagian besar orang, seks memberi dampak menenangkan sehingga tidur menjadi lebih nyenyak.

Perut kenyang memicu mimpi buruk
Belum ada penelitian yang mengaitkan antara makanan dan mimpi buruk. Namun, makan kenyang sebelum tidur memang bisa menimbulkan gangguan karena saat perut dalam kondisi penuh aliran darah akan lebih banyak mengarah ke pencernaan dibanding ke organ tubuh lainnya. Lagi pula, tidur dalam kondisi perut kenyang biasanya tidak nyaman sehingga mengganggu tidur.

Susu membuat tidur lebih lelap
"Susu hangat memang bisa membuat tubuh lebih rileks. Namun, tidak ada kandungan spesifik dari susu yang membuat kita mudah mengantuk," kata Gehrman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau