MOGADISHU, KOMPAS.com - Perdana Menteri Somalia, Omar Abdirashid Sharmarke, tidak akan mengundurkan diri meski Presiden Ahmed Sheikh Sharif menegaskan akan mengangkat perdana menteri baru. Presiden Sharif telah mengesahkan mosi tidak percaya terhadap kabinet pimpinan Sharmarke.
"Saya telah bertemu presiden dan menginformasikan dia bahwa saya tidak akan mengajukan pengunduran diri karena keputusannya tidak didukung oleh undang-undang transisi," kata Omar Abdirashid Sharmarke kepada wartawan di kediaman resminya di sebelah istana presiden di Mogadishu, Selasa (18/5). "Tidak ada mayoritas parlemen yang menetapkan mosi tidak percaya kepada pemerintah saya. Menurut undang-undang transisi, perdana menteri dapat diberhentikan bila 50 persen anggota parlemen memberi suara menolak pemerintahannya," tambah Sharmarke.
Sharmarke mengatakan ia telah meminta anggota kabinet untuk terus menjalankan tugas-tugas mereka seperti biasanya. Ketua parlemen Aden Madobe, yang telah mengundurkan diri Senin, mengatakan 280 anggota parlemen memberi suara menolak pemerintah pimpinan PM Omar Abdirashid Sharmarke, dan hanya 30 anggota menerima dan delapan anggota abstain.
Sebanyak 550 anggota parlemen menyokong kekuasaan Presiden Sheikh Sharif Sheikh Ahmed dukungan Barat.
Para analis berspekulasi bahwa Sharmarke dan Madobe telah mencapai satu kesepakatan dengan presiden untuk membentuk pemerintahan baru dan mereka akan ditawarkan beberapa pos kabinet. Parlemen tidak melakukan sidang apapun sejak Desember hingga pemungutan suara yang digelar Minggu lalu karena sejumlah anggotanya tinggal di Kenya, atau Eropa dan Amerika Utara.
Deputi Modabe, Mohamed Omar Dalha, mengatakan ia juga tidak bakal mengundurkan diri karena undang-undang transisi tidak mengatur pengunduran dirinya. "Saya sangat prihatin atas ketidaksepakatan dalam pemerintahan, yang akan menyebabkan tumbangnya pemerintah federal transisi," kata Dalha kepada Reuters di Nairobi.
Somalia dilanda pertikaian politik hebat dan lemahnya pemerintah pusat sejak tumbangnya rezim diktator tahun 1991. Kaum militan Islam melancarkan perang gerilya dalam tiga tahun belakangan ini yang telah menewaskan lebih dari 21.000 orang di negara Tanduk Afrika tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang