PM Somalia Tolak Mundur

Kompas.com - 18/05/2010, 23:36 WIB

MOGADISHU, KOMPAS.com - Perdana Menteri Somalia, Omar Abdirashid Sharmarke, tidak akan mengundurkan diri meski Presiden Ahmed Sheikh Sharif menegaskan akan mengangkat perdana menteri baru.  Presiden Sharif telah mengesahkan mosi tidak percaya terhadap kabinet pimpinan Sharmarke.

"Saya telah bertemu presiden dan menginformasikan dia bahwa saya tidak akan mengajukan pengunduran diri karena keputusannya tidak didukung oleh undang-undang transisi," kata Omar Abdirashid Sharmarke kepada wartawan di kediaman resminya di sebelah istana presiden di Mogadishu, Selasa (18/5). "Tidak ada mayoritas parlemen yang menetapkan mosi tidak percaya kepada pemerintah saya. Menurut undang-undang transisi, perdana menteri dapat diberhentikan bila 50 persen anggota parlemen memberi suara menolak pemerintahannya," tambah Sharmarke.

Sharmarke mengatakan ia telah meminta anggota kabinet untuk terus menjalankan tugas-tugas mereka seperti biasanya. Ketua parlemen Aden Madobe, yang telah mengundurkan diri Senin, mengatakan 280 anggota parlemen memberi suara menolak pemerintah pimpinan PM Omar Abdirashid Sharmarke, dan hanya 30 anggota menerima dan delapan anggota abstain.

Sebanyak 550 anggota parlemen menyokong kekuasaan Presiden Sheikh Sharif Sheikh Ahmed dukungan Barat.

Para analis berspekulasi bahwa Sharmarke dan Madobe telah mencapai satu kesepakatan dengan presiden untuk membentuk pemerintahan baru dan mereka akan ditawarkan beberapa pos kabinet. Parlemen tidak melakukan sidang apapun sejak Desember hingga pemungutan suara yang digelar Minggu lalu karena sejumlah anggotanya tinggal di Kenya, atau Eropa dan Amerika Utara.

Deputi Modabe, Mohamed Omar Dalha, mengatakan ia juga tidak bakal mengundurkan diri karena undang-undang transisi tidak mengatur pengunduran dirinya. "Saya sangat prihatin atas ketidaksepakatan dalam pemerintahan, yang akan menyebabkan tumbangnya pemerintah federal transisi," kata Dalha kepada Reuters di Nairobi.

Somalia dilanda pertikaian politik hebat dan lemahnya pemerintah pusat sejak tumbangnya rezim diktator tahun 1991. Kaum militan Islam melancarkan perang gerilya dalam tiga tahun belakangan ini yang telah menewaskan lebih dari 21.000 orang di negara Tanduk Afrika tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau