Golkar Bahas Sekgab

Kompas.com - 19/05/2010, 04:02 WIB

Jakarta, Kompas - Masalah Sekretariat Gabungan Koalisi Partai Politik menjadi salah satu agenda pertemuan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat dan anggota fraksi Partai Golkar di DPR, Jakarta, Selasa (18/5). Namun, Ketua Umum Partai Golkar yang juga Ketua Harian Sekgab Aburizal Bakrie tidak hadir karena berada di luar negeri.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menuturkan, pertemuan itu adalah tempat fraksi melaporkan berbagai isu dan dinamika politik, termasuk tentang Sekgab, kepada DPP Partai Golkar. Pertemuan itu juga untuk konsolidasi pemenangan pemilu kepala daerah.

Menurut Idrus, Sekgab merupakan strategi Partai Golkar untuk menjamin kelangsungan pembangunan. ”Supaya pembangunan berjalan, perlu stabilitas politik. Penguatan koalisi menjadi kebutuhan karena tidak ada partai yang menang mutlak,” ujar Idrus. Keberadaan Sekgab, lanjutnya, tidak menimbulkan intrik di Golkar.

Terkait hak menyatakan pendapat dalam kasus Bank Century, sesaat sebelum pertemuan, anggota Fraksi Partai Golkar, Yorris Raweyai, menuturkan, hal itu berbeda dengan Pansus Bank Century. ”Biarkan proses hukum berjalan dahulu,” kata Yorris.

Namun, Bambang Soesatyo, anggota Fraksi Partai Golkar, menyatakan, partainya masih memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk mendukung atau tidak mendukung hak menyatakan pendapat. Sekarang sudah ada 26 anggota Fraksi Partai Golkar yang menandatangani usulan penggunaan hak menyatakan pendapat. Sementara anggota DPR seluruhnya yang mengusulkan penggunaan hak itu mencapai 128 orang.

Sehari sebelumnya, wakil dari tiga fraksi anggota koalisi (Partai Golkar, PKS, dan PPP) tidak menghadiri rapat tim kecil Panitia Pengawas DPR untuk pelaksanaan rekomendasi kasus Bank Century, tetapi rapat tetap diteruskan. ”Kami sudah menunggu selama sekitar 25 menit, tetapi mereka belum juga datang,” kata Akbar Faizal, ketua tim kecil dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat, Senin.

Dalam rapat itu dibahas rencana mengundang Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri untuk diminta penjelasannya terkait pengusutan kasus Bank Century, Rabu mendatang. Juga dibahas rencana mengundang manajemen Bank Mutiara (dulu Bank Century) dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Bambang Soesatyo mengaku tidak hadir karena ada keperluan lain. ”Kami tetap konsisten menuntaskan kasus Bank Century karena itu merupakan amanat Munas Partai Golkar tahun 2009. Namun, seharusnya sudah tidak saatnya lagi kami rapat dan memanggil pihak tertentu untuk diminta keterangan. Masa itu sudah dilakukan dalam Pansus Bank Century,” ujarnya.

Menurut Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto, posisi Partai Golkar dalam Sekgab tidak akan memengaruhi sikap partai terhadap kasus Bank Century. Fraksi Partai Golkar tetap konsisten mengawal pelaksanaan rekomendasi hasil penyelidikan skandal Bank Century oleh penegak hukum. Terkait penggunaan hak menyatakan pendapat, kata Setya, pihaknya akan menunggu hasil penyelesaian kasus Century oleh kejaksaan, kepolisian, dan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kemarin Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi menegaskan, pembentukan Sekgab jangan sampai melemahkan kekritisan tiap parpol yang tergabung di dalamnya.

Menurut Muladi, secara praktis, Sekgab berfungsi sebagai ajang koordinasi, penataan, sekaligus untuk menyolidkan hubungan antarparpol peserta koalisi. ”Nanti kalau sudah disosialisasikan masih aneh-aneh, ya, itu perlu ditinjau lagi nanti keanggotaannya sebagai anggota DPR. Kalau mau kritis asal konstruktif, boleh,” ujar Muladi se usai menghadiri seminar ”Strategi Pemantapan Perekonomian Nasional Pascakrisis Ekonomi Global”, Selasa. (DWA/NTA/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau