Kementerian Perhubungan pun secepatnya akan menginformasikan kondisi terakhir jalur rel kereta tersebut kepada Kementerian Keuangan agar kebutuhan pendanaan terpenuhi.
”Setelah melihat langsung kondisinya, pemerintah segera mempercepat proses relokasi rel di Porong, yang sebenarnya sudah diprogramkan sejak beberapa tahun terakhir. Kami khawatir bila amblesan terus terjadi, transportasi kereta ke Jawa Timur bagian selatan menjadi terputus,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, saat meninjau rel kereta di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (18/5).
Bambang menegaskan, Kementerian Perhubungan sesungguhnya sudah menyiapkan trase (jalur) kereta, termasuk desainnya. Trase baru itu membentang antara Stasiun Sidoarjo, Stasiun Tulangan, dan Stasiun Gunung Gangsir sepanjang 26 kilometer.
”Jadi, persoalannya saat ini terletak pada keterbatasan anggaran,” ujar dia.
Anggaran dibutuhkan untuk dua hal. Pertama, pembebasan lahan seluas 51 hektar (sepanjang 16 kilometer) dengan estimasi anggaran Rp 90 miliar. Kedua, pembangunan konstruksi rel, stasiun, dan persinyalan yang mencapai lebih dari Rp 600 miliar.
”Idealnya, relokasi rel dikerjakan secepatnya karena kita tidak mengetahui pasti kejadian berikutnya di kawasan Porong,” kata Indrasurya B Mochtar, pakar geoteknik mekanika tanah dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Dia pun membenarkan bahwa penurunan muka tanah di Porong terus terjadi meski semburan lumpur tidak sekuat dulu.
Bila tidak direlokasi, kata Wakil Menteri Perhubungan, anggaran hanya akan dihabiskan untuk terus meninggikan jalur kereta api. ”Sambil menunggu relokasi rel, beberapa minggu ke depan, kita harus meninggikan rel sepanjang 600 meter. Bila tidak, ketika hujan turun, rel itu akan tergenang air dan transportasi kereta terputus,” ujar Bambang.
Hanya 2 meter dari badan rel, tidak jauh dari pertigaan antara Jalan Raya Porong dan Tol Surabaya-Gempol, sejak awal Mei 2010 ini juga muncul gelembung-gelembung gas baru. Semburan gas sebelumnya juga sudah muncul di sekitar Jalan Raya Porong sekitar minggu terakhir bulan April lalu.
Akibatnya, PT Kereta Api sejak 19 April hanya memperbolehkan masinis membatasi kecepatan maksimal 10 kilometer per jam bila melewati kawasan kolam lumpur. Penumpang juga dilarang keras merokok di dalam kereta antara Stasiun Tanggulangin dan Porong di sepanjang tanggul lumpur karena udara di kawasan itu rawan terbakar.
Pada awalnya, pemerintah mendesain relokasi semua infrastruktur di Porong dalam satu koridor. Di koridor itu tergabung jalan arteri, tol, rel kereta api, tiang listrik, hingga pipa gas, dengan panjang 10 kilometer.
Namun, bagi jalur rel kereta api sulit mengikuti trase relokasi infrastruktur bersama karena jalur kereta harus mengikuti rumus lengkungan tertentu. Jalur kereta api juga harus mencapai kelandaian setinggi mungkin agar kereta mampu menanjak.
Namun, seperti halnya relokasi rel, relokasi infrastruktur bersama Porong belum memperlihatkan tanda-tanda akan selesai. Pembangunan konstruksi sama sekali belum dimulai karena pemerintah daerah masih berkutat dengan masalah
Awal bulan Mei 2010, Kementerian Pekerjaan Umum juga mengumumkan akan meninggikan Jalan Raya Porong antara 0,5 meter dan 1 meter. Alasannya karena jalan itu juga terus ambles dan muncul gelembung-gelembung gas di bahu jalan. Peninggian jalan dimaksudkan untuk mencegah putusnya jalur transportasi darat utama dari Surabaya menuju Jember, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.
(RYO)