Baja

Mittal Bangun Pabrik, Pemerintah Waspada

Kompas.com - 19/05/2010, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Rencana produsen baja terbesar dunia, Arcelor Mittal, membangun pabrik di Serang, Banten membuat Kementerian Badan usaha Milik Negara (BUMN) waspada.

Deputi Kementerian BUMN Bidang Pertambangan, Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi Sahala Lumban Gaol kemarin telah meminta Krakatau Steel (KS) menganalisa posisi pasar pabrik baja milik pemerintah tersebut jika pabrik Mittal kelak beroperasi. "Analisis juga menyangkut dampak pabrik Mittal kepada industri baja nasional," ungkap Sahala kepada KONTAN. Sahala mengatakan, is sendiri belum mengetahui pasti detil-detil rencana bisnis Mittal tersebut di Indonesia.

Kekhawatirkan Kementerian BUMN memang beralasan. Soalnya, pabrik baja yang
akan dibangun Mittal dengan menggandeng PT Banten Global Development (BGD) itu berkapasitas sedikitnya 2,5 juta ton per tahun. Dan yang tak kalah penting, mereka membidik pasar baja dalam negeri Indonesia. Oh ya, BGD adalah badan usaha milik daerah Provinsi Banten.

Kapasitas dan target pasar pabrik Mittal tersebut sama dengan KS. Saat ini kapasitas produksi KS juga 2,5 juta ton per tahun, dan menguasai 80 persen pasar baja dalam negeri.

Selama ini, KS sulit mengembangkan kapasitas pabriknya karena tak punya dana. Rencana ekspansinya dengan mendirikan pabrik baja baru bersama Pohang Iron and Steel Corporation (POSCO) dari Korea Selatan berjalan alot dan terancam gagal.

Direktur BGD Rudi Radjab membenarkan, pabrik patungan BGD dengan Mittal tersebut akan memasok kebutuhan domestik. Tapi secara tak langsung is menepis kekhawatiran bahwa pabrik tersebut akan menggerus pasar KS. Soalnya, Mittal menghitung pasar baja Indonesia sangat besar. Setiap tahun, kebutuhan baja nasional mencapai 8 juta ton, sementara produksi dalain negeri hanya 4 juta ton, sehingga harus mengimpor 4 juta ton.

Selain pasar yang besar, Mittal tertarik membangun pabrik di Indonesia karena bahan baku di sini melimpah. Cuma, untuk memutuskan jenis baja yang akan diproduksi, Mittal masih melakukan studi kelayakan hingga Juni nanti.

BGD sendiri melihat, Mittal bisa berperan mengangkat perekonomi dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Banten. Itulah sebabnya BGD menerima pinangan Mittal sebagai mitra lokal walaupun hanya kebagian saham 20 persen di pabrik baja barn tersebut.

Rencananya, pembangunan pabrik baja Mittal akan dimulai paling lambat akhir 2011, bukan tahun ini. Pembangunan pabrik tersebut memerlukan waktu dua tahun sehingga baru mulai beroperasi 2013.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia Edward R. Pinem berpendapat, masuknya Mittal tidak akan mengganggu pangsa pasar yang ada. Pabrik tersebut justru akan membantu memenuhi kebutuhan nasional. sehingga tidak perlu impor. Tapi, mantan petinggi Krakatau Steel ini menyarankan agar Mittal memproduksi baja dari sektor hulu dan jenis yang selama ini diimpor.

Ia juga berharap, Mittal memakai teknologi ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan masalah. Catatan saja, di Indonesia, Mittal memiliki pabrik baja, PT Ispat Indonesia. Enam tahun silam, pabrik ini sempat dituding mencemari sumur warga. (Kontan/Herlina Kartika Dewi, Ewo Raswa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau