Rusuh thailand

Pendemo Tak Pakai Kekerasan

Kompas.com - 19/05/2010, 10:45 WIB

KOMPAS.com — Pengunjuk rasa "Kaus Merah" kembali menekankan tak menggunakan kekerasan dalam kegiatan demonstrasi menentang Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva. Mereka juga tak bakal beranjak dari lokasi unjuk rasa, kawasan sentra bisnis Bangkok, sebagaimana Reuters menulis, Rabu (19/5/2010). "Saya tak punya rencana untuk menyingkir dari sini," kata Saman Niyakul, pengunjuk rasa dari Provinsi Ubon Ratchathani.

Menurut Niyakul, ia menganggap unjuk rasa yang dilakukannya hampir lebih dari enam minggu lamanya adalah bentuk perjuangan. "Saya di sini demi memperjuangkan Thailand yang lebih baik. Demi negaraku, saya tak takut mati," kata pria berusia 54 tahun itu.

Sementara itu, menurut catatan Bangkok Post, sejak perundingan damai gagal disepakati oleh pemerintah dan Kaus Merah, jumlah korban di pihak demonstran makin menanjak. Hingga hari ini, sudah 39 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka, kata surat kabar itu.

Pada bagian lain, salah seorang pemimpin pengunjuk rasa, Nattawut Saikua, kembali menegaskan, pihaknya tak menggunakan kekerasan untuk penyampaian aspirasi. Di depan sekitar 3.000 pendemo, ia kembali mengatakan dengan tegas, "Kita semua bersama-sama ada di sini. Kita akan berjuang pula bersama-sama."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau