Kasus century

Sri Mulyani Mundur, Demokrasi Terancam

Kompas.com - 19/05/2010, 11:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti dari Universitas Nasional Australia, Marcus Mietzner, menilai mundurnya Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan akan mengancam demokrasi di Indonesia.

Menurut Mietzner, Sri Mulyani merupakan salah satu major blow atau penyeru utama antikorupsi di Indonesia.

"Padahal, pemberantasan korupsi menjadi nilai positif dalam evaluasi demokrasi Indonesia," kata Mietzner dalam peluncuran bukunya yang berjudul Problem of Democratication in Indonesia Election, Institutions and Society di Hotel Santika, Jakarta, Rabu (19/5/2010).

Mietzner mengatakan, terdapat dua permasalahan yang mengancam proses demokrasi di Indonesia. Pertama adalah korupsi. Kedua adalah sistem pemilihan umum di Indonesia yang seolah-olah masih mengacu pada sistem pemilu masa Orde Baru.

"Terdapat permasalahan yang memperlemah kerja KPK di Indonesia, seperti proposal Menkominfo yang mempermasalahkan penyadapan yang dilakukan KPK," katanya.

Pemilu di Indonesia, menurut Mietzner, seolah mengulang strategi pada Pemilu 1999. Masih ada anggota partai politik yang tergabung dalam Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Anggota partai dalam KPU tidak hanya merusak reputasi, tetapi juga mengulang skenario 1999. Manajemen KPU akan kacau dan partai tidak senang dengan hasilnya," ujar Mietzner.

Intervensi negara dalam menentukan bentuk atau jumlah partai, kata Mietzner, akan membahayakan prinsip demokrasi. Akibatnya, pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sistem elektoral yang kembali ke belakang akan menentukan reputasi mode demokrasi Indonesia di dunia internasional.

"Ranking kebebasan di Indonesia akan turun sehingga mengurangi kepercayaan investor asing," tambahnya.

Marcus Mietzner adalah pengajar di Universitas Nasional Australia yang telah meneliti Indonesia sejak tahun 1998 hingga 2008.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau