KOMPAS.com - Pendidikan tata busana tingkat universitas bertugas membekali mahasiswanya dengan berbagai keahlian. Bagaimanapun, kebebasan eksplorasi ide kembali kepada si perancang. Setiap mahasiswa memiliki karakter unik, seperti ditampilkan 58 desainer muda dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di ajang Jakarta Fashion & Food Festival 2010.
Perancang muda berusia rata-rata 22 - 23 tahun ini mendapat giliran pertama, dalam rangkaian pagelaran busana dari tiga sekolah fashion. Peragaan busana UNJ bertema "Modechotnic atau Modern Clothes Ethnic" menampilkan karya yang terinspirasi dari kain tradisional Indonesia.
Mahasiswa semester delapan Program Studi Pendidikan Tata Busana UNJ ini merancang busana ready to wear bergaya modern dengan sentuhan kain ulos, tapis, songket, lurik, barik, serta bahan jumputan.
"Konsep busana ready to wear mempadupadankan etnik dari sisi bahan, dan modern dari sisi model. Kain daerah dan kain monumental tekstil atau kain daerah yang diolah seperti jumputan menjadi bahan yang dipilih. Sedangkan untuk modelnya, semua perancang mengacu pada satu tema besar, modern dengan gelombang, kerut, lipat, dan lainnya," jelas Raayah Silmi, ketua umum panitia pagelaran busana Modechotnic kepada Kompas Female usai pagelaran busana, di Grand Ballroom Harris Hotel, Jakarta, Senin (17/5/2010) lalu.
Raayah menjadi salah satu desainer busana muslim dengan eksplorasi kain lurik. Desainer muda ini menjelaskan, setiap mahasiswa diberikan kebebasan mengeskplorasi idenya. Meskipun demikian, terusan bergaya feminin mendominasi koleksi rancangan mahasiswa UNJ.
Menurut Raayah, feminitas dari segi desain busana dan pemilihan warna seperti ungu atau pink, menjadi pilihan mahasiswa yang terbagi dalam enam kelompok ini.
Tampil dalam JFFF menjadi kebanggaan bagi mahasiswa UNJ. Desain busana serta talenta mahasiswa tata busana UNJ bisa terangkat dari ajang semacam ini. Meski, Raayah menyayangkan, durasi waktu yang hanya satu jam membatasi ruang ekspresi mahasiswa. Maklum, momen ini berharga bagi mahasiswa semester delapan tata busana UNJ sebagai penyelesaian mata kuliah akhir, sebelum menuju skripsi.
Seperti ditegaskan Raayah, tema feminin menjadi pilihan dalam warna dan rancangan busana. Namun sisi maskulinitas dari perempuan juga ditonjolkan. Seperti rancangan Prachrist Daren dengan gaya gothic yang dipadukan garis dan warna lurik yang unik. Rinni Puji Asih menuangkan desain maskulin untuk busana wanita dinamis, dengan sentuhan kain ulos. Amelia Nofinda, juga ingin menunjukkan kegagahan perempuan dalam desain busana yang diberi tema The Things. Baginya, perempuan perlu tampil sebagai sosok kuat, mandiri, berwibawa.
Ide lain datang dari Permata Dewi Tourina, terinspirasi dari musisi ternama Michael Jackson. Jacko sebagai trendsetter dan fashion icon, menjadi semangat yang melatari desain anggun dan gaya untuk busana wanita ala Permata. Begitu pula dengan Fitri Pratiwi, yang memodifikasi kain tapis dalam rancangan busana wanita bergaya rocker era 80-an. Musisi pun menjadi inspirasi unik dalam merancang busana feminin.
Tak hanya kain tradisional, alam juga menjadi inspirasi desain. Seperti rancangan Mochamad Asgofur yang akrab disapa Fufu. Ciri khas Sumatera Utara, ulos dan danau Toba, serta aktivitas nelayan di pesisir pulau Samosir diwujudkan dalam rancangan busana wanita bertema "Ulos Bubbles on the Black Frills Toba". Anggun, seksi, dan feminin, tampak dalam desain Fufu.
Raayah sebagai penyelenggara mengamini, desainer muda memiliki karakter unik. Baginya, fashion akan terus berkembang dengan lahirnya generasi baru. Menanggapi persaingan dalam industri fashion, Raayah menilainya sebagai tantangan sekaligus motivasi untuk terus berkarya.
"Institusi tidak hanya mencetak desainer, namun juga pendidik. Tantangannya adalah bagaimana desainer muda memiliki keahlian utuh, tak hanya membuat pola, ahli dalam teknik, atau desain, cutting, maupun penjahitan saja. Desainer muda harus tertantang untuk memiliki beberapa keahlian dari setiap bidang tersebut. Termasuk keahlian desain, baik manual maupun komputerisasi," papar Raayah, yang juga ingin merancang masa depannya sebagai pendidik fashion.
Pertunjukan Modechotnic memanjakan penggemar fashion yang hadir Senin lalu. Termasuk dengan memberikan sebuah buklet lengkap dengan sketsa desain dan informasi tentang desainer.
Para desainer muda dengan kepercayaan diri ini memang ingin membuka pasar bagi siapa pun yang tertarik dengan rancangan mereka. Sebuah bukti, dengan dukungan pendidik, kreativitas menyegarkan akan selalu lahir dari kalangan muda.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang