JAKARTA, KOMPAS.com — Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menutup kuliah umum tentang kebijakan publik dan etika publik di Jakarta ditanggapi beragam oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
Wakil Ketua Komisi III DPR Fachri Hamzah dari Fraksi PKS menyebut pernyataan tersebut bak ungkapan emosional. "Itu pernyataan mutung," ujar Fachri, yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PKS, kepada para wartawan, Rabu (19/5/2010) di DPR.
Fachri berharap, kepergian Sri Mulyani guna mengisi posisi Direktur Pelaksana Bank Dunia di Washington DC tidak menimbulkan tanda tanya bagi publik di dalam negeri. Sri Mulyani diketahui akan lepas landas menuju Amerika Serikat pada 26 Mei mendatang. "Jangan sampai terkesan ada eskapisme dengan pindahnya Sri Mulyani ke Bank Dunia. Ini harus di-clear-kan," kata Fachri.
Sebelumnya, kemarin, Sri Mulyani mengatakan, ia sudah tidak dikehendaki di tengah situasi politik yang sudah kurang beretika. "Kalau hari ini ada yang menyesalkan atau menangisi kenapa Sri Mulyani memutuskan mundur dari Menkeu, ini suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya atau apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik, di mana perkawinan kepentingan itu sangat dominan. Banyak yang mengatakan ini adalah kartel, saya lebih suka mengatakannya kawin walau jenis kelaminnya sama," katanya.
Ditambahkannya, konsep etika dan pandangan tentang perlunya mencegah konflik kepentingan bagi pejabat publik di Indonesia menjadi barang sangat langka. Orang yang menegakkan etika itu malah dianggap orang aneh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang