Berlusconi: Leonardo Keras Kepala

Kompas.com - 19/05/2010, 23:45 WIB

MILAN, KOMPAS.com - Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi, mengungkapkan alasan ia melepas Leonardo karena pelatih asal Brasil itu tak pernah mau mendengarkan nasihatnya. Leonardo terlalu keras kepala.

Ini adalah musim pertama Leonardo sebagai pelatih. Ia langsung mendapat kesempatan emas untuk membesut tim sekelas Milan. Semuanya berjalan lancar hingga Februari lalu. Namun, setelah "I Rossoneri" tersingkir dari babak perdelapan final Liga Champions oleh Manchester United, perang antara Leo dan Berlusconi dimulai.

Berlusconi kerap menyerang Leo di media dan menasihatinya mengenai taktik dan formasi yang harusnya digunakan Leo. Mantan pemain kidal itu cuek dan tak mempedulikan saran bosnya tersebut.

"Leonardo pria yang baik dan seorang profesional, tapi dia keras kepala. Dia tak pernah melakukan apa yang saya katakan kepadanya. Tak pernah sekali pun," kata Berlusconi.

Melihat keadaan Leo yang terus diserang Berlusconi, fans Milan tak tinggal diam. Pada partai terakhir Liga Serie-A melawan Juventus, Sabtu (15/5/2010), fans Milan memberi dukungan luar biasa bagi Leo untuk tetap tinggal. Mereka juga meminta Berlusconi untuk mundur. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Milan akan segera dijual Berlusconi.

""Saya takkan pernah menjual Milan. Klub ini milik saya dan menempel seperti lem bersama orang-orang terdekat yang saya kasihi. Teruslah percaya kepada saya," lanjutnya. (FBI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau