Krisis thailand

Dunia Kecam Kekerasan di Bangkok

Kompas.com - 20/05/2010, 05:41 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Dunia mengutuk kekerasan yang terjadi di Bangkok, Thailand, dan menyerukan kepada pihak-pihak yang terlibat untuk melakukan rekonsiliasi.

Amerika Serikat memimpin dunia dalam mengutuk kerusuhan yang terjadi, Rabu (19/5/2010), yang menewaskan sedikitnya enam orang. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan adanya upaya baru untuk mengakhiri kekerasan tersebut.

Massa "Kaus Merah" yang antipemerintah membakar lebih dari dua lusin bangunan di Bangkok, termasuk bursa saham, dalam aksi kekerasan yang mendorong pemerintah untuk menyatakan jam malam di sekitar sepertiga wilayah negara itu.

Washington melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Gordon Duguid, mengatakan, pihaknya sangat prihatin bahwa massa Kaus Merah telah terlibat dalam aksi pembakaran, menyerang infrastruktur listrik dan kantor media serta wartawan. "Kami mengutuk perilaku semacam itu dan menyerukan kepada pemimpin mereka serta politisi oposisi untuk mengendalikan para pendukungnya demi menghentikan tindakan seperti itu."

Sekjen PBB Ban Ki-moon juga menyatakan keprihatinan atas peningkatan kekerasan dan menuntut upaya untuk mengakhiri krisis tersebut secara damai. "Dia terus mendesak adanya langkah yang harus diambil oleh Pemerintah Thailand dan pengunjuk rasa untuk menghindari kekerasan lebih lanjut dan hilangnya nyawa serta untuk mengatasi masalah secara damai," kata juru bicara PBB, Martin Nesirky.

Uni Eropa menegaskan, rekonsiliasi antarpihak yang terlibat merupakan keharusan. "Thailand kini memasuki masa di mana rekonsiliasi bukan lagi sebuah opsi, itu merupakan hal mutlak yang harus ditempuh," kata Presiden Parlemen Uni Eropa Jerzy Buzek dalam sebuah pernyataan.

"Terlalu banyak darah telah tumpah di jalan-jalan Bangkok," kata Buzek. "Saya berharap, konfrontasi kekerasan antara pasukan pemerintah dan demonstran mendekati akhir."

Brasil juga menyatakan solidaritas dengan bangsa Thailand dan berharap situasi bisa cepat kembali normal. Menteri Luar Negeri Denmark Lene Espersen mengatakan, ia sangat cemas dengan situasi di Thailand dan mendesak semua pihak, pemerintah dan para pengunjuk rasa, untuk menahan diri dalam situasi yang sangat tegang itu.

Denmark seperti sejumlah negara lain telah menutup kedutaan besarnya di Bangkok sejak Minggu dan para stafnya telah dipindahkan ke hotel di luar zona bahaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau