SEMARANG, KOMPAS - Sekitar 73,4 persen mangrove di Kota Semarang dalam kondisi kritis. Padahal dengan menyelamatkan mangrove, lingkungan di Kota Semarang juga dapat diselamatkan. Kerusakan mangrove itu sangat berkaitan dengan abrasi dan kenaikan muka air laut di Kota Semarang.
Direktur Pelaksana Bina Karta Lestari (Bintari) Kota Semarang Ferry Prihantoro di Kota Semarang, Rabu (19/5), mengatakan, dari sekitar 200 hektar lahan mangrove yang ada di Kota Semarang, hanya 26,6 persen yang berada dalam kondisi baik. Tanaman mangrove hanya terdapat di Kecamatan Tugu dan Kecamatan Genuk.
Di wilayah lain, pantai telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti pelabuhan, bandara, serta kawasan industri. Abrasi yang tinggi juga menyebabkan mangrove semakin berkurang.
Guru Besar Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Sudharto P Hadi menyebutkan, antara mangrove dan abrasi saling berkaitan. Tingginya abrasi dapat menyebabkan mangrove mati karena selalu terempas gelombang air laut. Sebaliknya, ketiadaan mangrove juga menyebabkan abrasi kian parah karena tidak ada penahan gelombang.
"Namun, kalau tanaman mangrove dalam kondisi rapat, saat terjadi kenaikan muka air laut, mereka mampu menahan. Sebaliknya, kalau mangrovenya sedikit atau jarang, abrasi akan kian parah karena tidak ada yang menahan," kata Sudharto.
Mangrove dapat digunakan untuk menyelamatkan pantai di Kota Semarang dengan abrasi yang tinggi. Namun, abrasi dan tingginya rob tidak serta merta diatasi dengan mangrove.
Sudharto menjelaskan, harus dibuat rekayasa semacam sabuk pantai dan biarkan perlahan-lahan terbentuk sedimentasi dengan sendirinya. Tanah yang terbentuk kemudian baru dapat ditanami mangrove. Jika langsung ditanami, mangrove akan hanyut dan mati.
Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, misalnya, setelah dibuat rekayasa semacam itu, kini tumbuh ekosistem mangrove yang lebat. Abrasi di pantainya mencapai 3,5 kilometer dan kini dapat teratasi.
Menjaga tambak
"Selain dapat menahan gelombang dan abrasi, keberadaan mangrove juga menjaga tambak-tambak milik masyarakat sehingga ekonomi masyarakat meningkat. Itu membuktikan bahwa antara ekonomi dan lingkungan juga bisa sinergis," kata Sudharto.
Untuk mengatasi persoalan mangrove, di Kota Semarang telah dibentuk kelompok kerja mangrove yang terdiri atas berbagai unsur, seperti pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Kelompok kerja ini diharapkan dapat menjadi wadah atau forum koordinasi bagi setiap kelompok yang peduli terhadap mangrove. (UTI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang