73,4 Persen Mangrove Kritis

Kompas.com - 20/05/2010, 10:17 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Sekitar 73,4 persen mangrove di Kota Semarang dalam kondisi kritis. Padahal dengan menyelamatkan mangrove, lingkungan di Kota Semarang juga dapat diselamatkan. Kerusakan mangrove itu sangat berkaitan dengan abrasi dan kenaikan muka air laut di Kota Semarang.

Direktur Pelaksana Bina Karta Lestari (Bintari) Kota Semarang Ferry Prihantoro di Kota Semarang, Rabu (19/5), mengatakan, dari sekitar 200 hektar lahan mangrove yang ada di Kota Semarang, hanya 26,6 persen yang berada dalam kondisi baik. Tanaman mangrove hanya terdapat di Kecamatan Tugu dan Kecamatan Genuk.

Di wilayah lain, pantai telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti pelabuhan, bandara, serta kawasan industri. Abrasi yang tinggi juga menyebabkan mangrove semakin berkurang.

Guru Besar Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang Sudharto P Hadi menyebutkan, antara mangrove dan abrasi saling berkaitan. Tingginya abrasi dapat menyebabkan mangrove mati karena selalu terempas gelombang air laut. Sebaliknya, ketiadaan mangrove juga menyebabkan abrasi kian parah karena tidak ada penahan gelombang.

"Namun, kalau tanaman mangrove dalam kondisi rapat, saat terjadi kenaikan muka air laut, mereka mampu menahan. Sebaliknya, kalau mangrovenya sedikit atau jarang, abrasi akan kian parah karena tidak ada yang menahan," kata Sudharto.

Mangrove dapat digunakan untuk menyelamatkan pantai di Kota Semarang dengan abrasi yang tinggi. Namun, abrasi dan tingginya rob tidak serta merta diatasi dengan mangrove.

Sudharto menjelaskan, harus dibuat rekayasa semacam sabuk pantai dan biarkan perlahan-lahan terbentuk sedimentasi dengan sendirinya. Tanah yang terbentuk kemudian baru dapat ditanami mangrove. Jika langsung ditanami, mangrove akan hanyut dan mati.

Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, misalnya, setelah dibuat rekayasa semacam itu, kini tumbuh ekosistem mangrove yang lebat. Abrasi di pantainya mencapai 3,5 kilometer dan kini dapat teratasi.

Menjaga tambak

"Selain dapat menahan gelombang dan abrasi, keberadaan mangrove juga menjaga tambak-tambak milik masyarakat sehingga ekonomi masyarakat meningkat. Itu membuktikan bahwa antara ekonomi dan lingkungan juga bisa sinergis," kata Sudharto.

Untuk mengatasi persoalan mangrove, di Kota Semarang telah dibentuk kelompok kerja mangrove yang terdiri atas berbagai unsur, seperti pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Kelompok kerja ini diharapkan dapat menjadi wadah atau forum koordinasi bagi setiap kelompok yang peduli terhadap mangrove. (UTI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau