Menkeu baru

Agus Marto Harus Berantas Para "Bandit"

Kompas.com - 20/05/2010, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Menteri Keuangan baru, Agus Martowardojo. Salah satunya keberanian untuk memberantas "bandit-bandit" ekonomi.

Hal itu dikatakan anggota Komisi XI asal Fraksi PDI Perjuangan, Arief Budimanta. Komisi XI, selaku mitra Kementerian Keuangan, berharap, Agus bisa menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan Sri Mulyani. "Satu hal yang belum berhasil diatasi Bu Ani adalah berkeliarannya 'bandit-bandit' ekonomi. Keberanian Menkeu untuk memberantas bandit-bandit ekonomi menentukan peningkatan penerimaan negara," kata Arief, Kamis (20/5/2010), di Gedung DPR, Jakarta.

"Bandit-bandit" ekonomi yang dimaksudnya adalah pelaku-pelaku yang selama ini menghambat pembangunan ekonomi pro rakyat. "Markus pajak, atau orang-orang yang menghambat pertumbuhan ekonomi, itu adalah bandit ekonomi," terangnya.

Dia juga mengatakan, Agus harus menerapkan kebijakan-kebijakan ekonomi pro rakyat secara ekstrem. Tiga parameter kebijakan pro rakyat diantaranya, APBN 2011 yang akan dikawalnya tidak boleh mengalami defisit, menghapuskan penerbitan surat utang negara (SUN) pada tahun 2011 dan mengingkatkan tax ratio hingga 15 persen.

Selama ini, dalam sepak terjangnya sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, Agus dinilai lebih pro kekuatan kapital dan tidak memberikan akses modal yang sama pada pelaku ekonomi lama dan baru. "Saat dia memimpin Bank Mandiri, masih terjadi asimetric power. Dia tidak bisa menciptakan kesetaraan antara pelaku ekonomi baru dan lama untuk sama-sama mendapat akses modal. Tidak terlihat pro pada UMKM," ujar Arief.

Dari sisi akseptabilitas, kata dia, Komisi XI tak ada alasan untuk menolak atau menerima pilihan Presiden yang dijatuhkan pada Agus. Bila kinerjanya tak seperti diharapkan, Agus diminta siap dan terbuka menerima segala kritik dan masukan anggota Dewan. "Kita tunggu hasil kerjanya. Kata Presiden, beliau katanya dikenal pasar. Pasar yang mana? Apakah pasar segitiga emas Jakarta atau pasar parung, pasar tanah abang," kata Arief.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau