Pelantikan menkeu

Presiden Beri Tujuh Pesan buat Agus

Kompas.com - 20/05/2010, 15:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Kamis (20/5/2010) petang, melantik Agus Martowardojo dan Anny Ratnawati sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan yang baru di dalam jajaran kabinet Indonesia Bersatu II.

Presiden mengangkat Agus sebagai Menkeu baru untuk menggantikan Sri Mulyani berdasarkan Keppres RI Nomor 56/P/2010. Agus ditetapkan aktif bertugas sejak dilantik. Sementara itu, Anny Ratnawati ditetapkan sebagai Wakil Menkeu berdasarkan Keppres RI Nomor 57/P/2010. Kepada Anny, Presiden memberikan jabatan struktural eselon IA sesuai perundangan yang berlaku.

Dalam sambutan seusai pengucapan sumpah jabatan dari kedua pejabat baru tersebut, Presiden menyampaikan kata sambutan, yang di dalamnya berisi tujuh instruksi yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab Menteri Keuangan.

"Sesuai dengan peneltian saya, atas kapasitas, integritas, dan pengalaman penugasan saudara-saudara, saya menilai bahwa saudara berdua cakap dan mampu untuk mengemban tugas sebagai Menteri Keuangan dan Wakil Menteri Keuangan," kata Presiden.

"Saya ingin kebijakan fiskal yang menjadi domain utama Menteri Keuangan dibantu Wakil Menteri Keuangan yang tepat dan prudent, sangat kontributif bagi penciptaan kondisi ekonomi makro," kata Presiden.

Dengan kondisi ekonomi makro yang sehat, ekonomi akan tumbuh dan sektor riil bergerak untuk bermuara pada meningkatnya kesejahteraan rakyat. "Manakala sebuah negara, satu pemerintahan yang menjalankan kebijakan fiskal yang tidak prudent, maka akan berdampak pada tidak sehatnya ekonomi makro kita. Tidak akan sustain. Apabila itu terjadi, akan rawan terhadap guncangan yang berakhir dalam krisis," kata Presiden.

Selanjutnya, Presiden menyampaikan tujuh instruksi berkaitan dengan tugas Menteri Keuangan. "Saya berpesan dan memberikan instruksi, ciptakan kebijakan fiskal yang prudent dan tepat, dan susun APBN yang tepat," kata Presiden.

APBN yang tepat berarti mampu mengalokasikan dan mendefinisikan anggaran untuk tugas pemerintahan, pembangunan, terutama pertumbuhan ekonomi, untuk jaring pengaman sosial, subsidi, dan pembayaran utang luar negeri. "Seraya terus memperkecil beban utang," kata Presiden.

Selanjutnya, Presiden berpesan agar kedua pejabat baru mampu meningkatkan pendapatan nasional, baik dari pajak maupun non-pajak. "Dengan cara mengeluarkan instrumen yang tepat agar benar-benar penerimaan negara kita makin besar. Teruslah melaksanakan reformasi di bidang perpajakan, tingkatkan perolehan, cegah penyimpangan yang bisa terjadi," kata Presiden lagi.

Presiden kemudian berpesan agar langkah reformasi di tubuh Bea Cukai dilanjutkan. "Agar penerimaan negara terus meningkat dan iklim bisnis berlangsung lebih baik," sambungnya.

Pesan selanjutnya adalah pengembangan kebijakan desentralisasi fiskal. "Dengan catatan, bangunlah kapasitas daerah untuk menggunakan anggaran yang makin besar, disertai pengawasan dan bimbingan yang tepat," sebut Presiden.

Presiden pun menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pertanggungjawaban keuangan di sektor ini. "Setiap rupiah harus kita pertanggungjawabkan," ungkap Presiden.

Kemudian, dalam rangka kerja sama global, Presiden meminta Menkeu baru meneruskan peran aktif yang telah dilakukan Sri Mulyani dalam pergaulan perekonomian global. "Itulah tujuh tugas yang saya harapkan saudara laksanakan ke depan bersama jajaran Kementerian Keuangan. Tidak ringan, tapi saya yakin dengan tanggung jawab, saudara harus bisa. Semua itu dapat dilaksanakan dengan baik. Kalau ada masalah, laporkan. Bersama-sama kita cari jalan keluar," kata Presiden.

Seusai sambutan tersebut, acara pelantikan ditutup dengan pemberian ucapan selamat kepada pejabat baru. Kesempatan ini diawali oleh Presiden yang didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono. Namun, pemandangan menarik adalah saat Sri Mulyani memberikan ucapan selamat. Keduanya sempat saling bercium pipi untuk kemudian bercakap-cakap.

Momen ini yang kemudian diabadikan oleh puluhan wartawan yang memadati ruang tengah Istana Negara, tempat upacara berlangsung. Keduanya pun sempat berpose dengan senyum lebar dan menghadap ke arah kamera untuk diabadikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau