TOKYO, KOMPAS.com - PM Jepang, Yukio Hatoyama, Kamis (20/5/2010) mengatakan, penenggelaman kapal angkatan laut Korea Selatan oleh Korea Utara tak bisa dimaafkan setelah penyelidikan menyimpulkan, bahwa rezim komunis itu dipersalahkan.
"Negara kami mendukung kuat Korea Selatan," katanya dalam pernyataan yang dibacakan oleh kepala juru bicaranya, Hirofumi Hirano.
"Tindakan Korea Utara tak bisa dimaafkan dan kami mengecam keras hal itu, bersama masyarakat internasional," tegasnya.
Forum penyelidikan multi-nasional Kamis menyimpulkan, kapal selam Korea Utara menembakkan sebuah torpedo yang menenggelamkan kapal perang Korea Selatan, yang menewaskan 46 pelautnya pada 26 Maret, di dekat perbatasan laut yang mereka sengketakan.
Korea Utara membantah bertanggungjawab atas ledakan dan tenggelamnya kapal Korea Selatan tersebut, dan memperingatkan perang skala penuh jika sanksi-sanksi baru dikenakan.
Hatoyama kemudian mengatakan kepada para wartawan, jika Korea Selatan mengupayakan resolusi pada DK PBB, Jepang akan menjadi ujung tombak dalam menghadapi Korea Utara.
Suatu tindakan terhadap Pyongyang oleh DK PBB akan meminta kesepakatan dari China, salah satu anggota DK pemegang hak veto yang adalah sekutu Korea Utara, yang mengisyaratkan pertama-tama pihaknya ingin mendapatkan bukti kuat.
"Kami ingin China ikut ambil bagian dalam tindakan ini sebanyak mungkin. Bukti adalah obyektif dan saya pikir kami bisa mempercayainya. Jepang mendukung kuat Korea Selatan," kata Katsuya Okada, Menlu Jepang.
Horano mengatakan, serangan Korea Utara bisa menyulitkan upaya-upaya bagi pelanjutan kembali perundingan perluncutan senjata nuklir enam negara, yang melibatkan kedua Korea, Rusia, China, Jepang dan Amerika Serikat.
Korea Utara keluar dari dialog itu pada April tahun lalu dan melakukan uji coba senjata atomnya yang kedua sebulan kemudian.
"Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Il berikrar dalam kunjungannya ke China dalam bulan ini, bahwa dia berupaya untuk menghidupkan kembali perundingan itu," kata media Beijing.
Masalah Korea Utara akan dibahas pada saat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, berkunjung ke Jepang Jumat, sebelum bertolak ke China dan Korea Selatan.
Dia juga akan membahas pertemuan puncak Jepang, China dan Korea Selatan yang dijadwalkan pada akhir bulan ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang