Bangkok Mulai Dibenahi

Kompas.com - 22/05/2010, 05:02 WIB

Bangkok, Kompas - Dua hari setelah serbuan tentara Thailand ke jantung protes antipemerintah, Pemerintah Thailand memulai gerakan ”pembersihan”, fisik maupun nonfisik. Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva, Jumat (21/5), menyerukan rekonsiliasi kepada segenap warga Thailand.

”Kita semua bisa memperbaiki gedung-gedung yang rusak, tetapi yang terpenting adalah menyembuhkan luka emosional dan memulihkan persatuan rakyat Thailand,” kata Abhisit dalam pidato yang disiarkan di televisi.

Meskipun menawarkan rekonsiliasi, Abhisit menyatakan tidak akan menggelar pemilu dini pada November nanti. Sebelumnya, Abhisit menawarkan pemilu dini agar pemrotes ”Kaus Merah” bersedia mengakhiri aksi protes yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Akan tetapi, dengan berhasilnya pemerintah membubarkan pemrotes secara paksa, tawaran itu tidak berlaku lagi.

Pembersihan secara fisik juga dimulai sejak kemarin. Wartawan Kompas Fransisca Romana melaporkan dari Bangkok, ratusan petugas kebersihan dikerahkan untuk membersihkan sampah dan berbagai barang yang ditinggalkan pemrotes Kaus Merah.

Di Ratchaprasong, panggung protes juga dibongkar. Sampah masih berserakan belum tersentuh. Para pekerja sibuk memagari kompleks perbelanjaan Central World dengan papan dan seng untuk perbaikan.

Sementara itu, para petugas pemadam kebakaran juga masih terus menyemprotkan air ke bagian Central World yang terparah dilanda kebakaran sejak bentrokan tentara dan pemrotes pada hari Rabu lalu.

Masih ditutup

Ruas-ruas jalan yang menuju Ratchaprasong masih ditutup bagi kendaraan. Setiap kendaraan yang lewat juga masih diperiksa tentara. Akan tetapi, orang-orang yang berjalan kaki ke tempat itu mulai diperbolehkan lewat dengan diperiksa terlebih dahulu.

Di Din Daeng, titik panas kerusuhan, tak banyak orang yang diperbolehkan melintas. Akan tetapi, komentar mereka senada. ”Mengerikan. Jika dibandingkan tahun 1992, jumlah orang yang tewas lebih sedikit. Akan tetapi, skala kerusakan kali ini jauh lebih buruk,” ujar John Shepard, yang telah tinggal di Thailand selama 30 tahun dan membuka usaha di Century Park Hotel di ujung pertigaan Din Daeng.

Saat pembersihan kota Bangkok dari pemrotes, Rabu dan Kamis, otoritas Thailand diduga kuat melakukan tindakan keras, yakni menggiring tawanan ke penahanan rahasia tanpa dakwaan.

Masalah itu menjadi sorotan lembaga HAM internasional terkemuka, Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di New York, Jumat (21/5).

”Tempat penahanan rahasia dan petugas yang tidak terhitung banyaknya adalah indikasi pelanggaran HAM,” kata Elaine Pearson, penjabat Direktur HRW Asia. (AP/AFP/Reuters/cal)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau