Presiden Janjikan Kenaikan Anggaran

Kompas.com - 22/05/2010, 05:53 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menjanjikan kenaikan anggaran kesehatan secara signifikan mulai 2011.

”Saya telah menggariskan, mulai tahun 2011 mendatang, setelah anggaran pendidikan kita naikkan 20 persen, maka porsi anggaran pembangunan kesehatan juga harus ditingkatkan signifikan dengan harapan, ini bisa menunjukkan bahwa memang sektor kesehatan menjadi prioritas,” kata Presiden.

Presiden Yudhoyono mengemukakan hal itu ketika membuka Temu Ilmiah dalam Rangka Hari Kebangkitan Nasional Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, Jumat (21/5).

Presiden pada kesempatan itu mendorong lembaga-lembaga kesehatan di Indonesia untuk bekerja sama seluas-luasnya dengan lembaga di negara-negara lain. Untuk kepentingan inovasi di bidang kesehatan dan kemanusiaan, Presiden menegaskan, aspek politik tidak perlu terlalu diperhitungkan.

”Kalau kerja sama itu nonpolitik, tidak usah berpikir-pikir politiknya. Kalau politik luar negeri masih ada yang mengurusi, antara lain SBY, tetapi kalau bidang sains, teknologi, bekerja samalah. Ini untuk kemanusiaan, tidak usah berpikir politiknya. Kalau ada yang ganjil, saya beritahu,” ujar Presiden.

Inovasi

Ditekankan oleh Presiden, inovasi bidang kesehatan amat diperlukan untuk menjawab kerumitan persoalan terkait kesehatan yang kerap bersifat lintas batas negara. Ketersediaan pangan, energi, air, hingga perubahan iklim dan peningkatan suhu yang diakibatkannya, semua berdampak pada kesehatan individual.

Mobilitas manusia yang semakin tinggi juga memudahkan berkembangnya wabah penyakit menular. Selain itu, muncul pula kompleksitas dari kejahatan transnasional perdagangan narkotika dan obat terlarang.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih, dalam sambutannya pada Temu Ilmiah ini, juga menegaskan, dalam era globalisasi, kesehatan bukan hanya berkaitan dengan upaya menyembuhkan penya- kit.

Aspek kesehatan juga berkaitan erat dengan ketahanan bangsa dan pengembangannya juga merupakan investasi penting.

Presiden Yudhoyono mengatakan, untuk menjawab kerumitan persoalan global itu, inovasi teknologi, riset, dan pengembangan di dunia kedokteran Indonesia harus didorong secara optimal.

Mencegah

Di sisi lain, Presiden mengingatkan lembaga kesehatan di Indonesia juga perlu mengubah paradigma dari sekadar menyembuhkan orang sakit menjadi usaha mencegah agar orang tidak sakit.

”Kalau dunia kedokteran kita maknai sebagai upaya membikin orang sakit menjadi sehat, itu barangkali baru separuh dari kewajiban Saudara karena yang utama adalah menjaga yang sehat tetap sehat,” ujar Presiden.

Terkait hal itu, pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan program yang dinilai masih relevan, antara lain berupa pengaktifan dan peremajaan berbagai lembaga kesehatan, seperti pusat kesehatan masyarakat, pos pelayanan terpadu, dan pos keluarga berencana. (DAY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau