Industri jamu

Pengusaha Juga Harus Aktif

Kompas.com - 22/05/2010, 13:58 WIB

KOMPAS.com — Pengusaha jamu tradisional Indonesia juga harus aktif merealisasikan ajakan pemerintah untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Pandangan itu disampaikan oleh Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat di sela-sela "Seminar Prospek Pengembangan Jamu Menuju Masyarakat Indonesia yang Sehat dan Mandiri: Harapan dan Tantangannya", Sabtu (22/5/2010).

Seminar itu menjadi salah satu mata rantai acara Hari Kebangkitan Alumni  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang dipusatkan di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat. Selain Irwan Hidayat, sebagai pembicara dalam kesempatan itu antara lain Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih serta Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Agus Purwadianto.

Beberapa regulasi dan program sudah bergulir terkait dengan hal itu. Sasaran utamanya, sebagaimana dikatakan Agus Purwadianto, agar jamu memiliki sistem standardisasi sebagai bagian dari pengobatan. "Sistem ini harus menjadi bagian pula dari paradigma kesehatan," kata Agus menegaskan.

Sementara itu, Irwan mengatakan, industri jamu sedikit demi sedikit mulai bangkit untuk mempertinggi kepercayaan masyarakat. Maka dari itulah, pihaknya juga memberikan penekanan pada standardisasi sebagaimana program pemerintah. "Penanaman tanaman sendiri lewat petani untuk kesiapan bahan baku adalah bagian dari upaya mempermudah standardisasi,"katanya.

Selanjutnya, terkait pula dengan program klinik jamu, Irwan setuju kalau klinik tersebut dipimpin oleh seorang dokter. Namun, dokter tersebut harus ikut belajar mengenai jamu sehingga yang bersangkutan makin memahami jamu itu. "Dokter komplementer istilahnya," kata Irwan.

Hal pokok yang juga menjadi perhatian, menurut Irwan, adalah jamu memang berbeda dengan pengobatan farmasi. Maka dari itulah, dirinya sepakat kalau jamu sejatinya memiliki sistem sendiri. "Namun, jamu dan farmasi harus dipandang sejajar," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau