Kongres partai demokrat

Siapa Raih Demokrat 1?

Kompas.com - 23/05/2010, 08:51 WIB

KOMPAS.com — Agenda hari terakhir Kongres II Partai Demokrat, Minggu (23/5/2010), akan memasuki agenda krusial: Pemilihan Ketua Umum 2010-2015. Pemilihan akan dimulai pukul 10.00. Tiga kandidat siap bertarung. Mereka adalah Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Marzuki Alie.

Sehari menjelang pemilihan, berbagai rumor dan dinamika menambah "panasnya" kompetisi di antara ketiganya. Salah satu dinamika yang cukup menarik terjadi dalam sidang pleno yang membahas jadwal acara. Terjadi perdebatan sengit mengenai kapan pemilihan ketua umum dihelat, sebelum atau sesudah pembahasan AD/ART.

Dua kubu calon, Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie, menghendaki pemilihan dilakukan lebih dulu. Sementara itu, kubu Andi Mallarangeng menghendaki sebaliknya. Saking alotnya, pimpinan sidang sampai harus melakukan voting untuk menentukan hal mana yang akan dilakukan.

Dugaan mencuat, voting terhadap agenda ini hanya merupakan strategi untuk mengukur kekuatan peta dukungan. Wakil Sekretaris SC, Benny K Harman, mengatakan, memang akan ada implikasi politik terhadap para calon yang akan mengikuti pemilihan.

Tim Sukses Marzuki Alie, Achsanul Qosasi, bahkan dengan tegas mengatakan, hasil voting akan menunjukkan kepada kader dan Dewan Pembina, siapa ketua umum yang diharapkan mayoritas pemegang hak suara. Proses voting hingga penghitungan suara pun memakan waktu lebih dari 5 jam.

Opsi Anas-Marzuki Menang

Setelah dilakukan penghitungan, hasil voting cukup signifikan. Opsi yang diusung kubu Anas dan Marzuki meraih 375 suara. Sementara itu, opsi yang didukung kubu Andi Mallarangeng hanya mendapatkan 130 suara. Pemilihan ketua umum pun diputuskan akan dilakukan sebelum pembahasan AD/ART.

Dengan hasil ini, Tim Sukses Marzuki Alie pun semakin percaya diri. Achsanul kembali mengatakan, Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono tak bisa menutup mata atas realitas dukungan yang disampaikan pemegang hak suara.

Sebelum voting, muncul rumor bahwa SBY meminta Marzuki untuk mundur dari bursa pencalonan. Kabarnya, ia menghendaki Andi sebagai ketua umum dan Anas Urbaningrum sebagai sekjennya. Namun, Marzuki dikabarkan tetap bertahan dan keputusan maju atau tidaknya diserahkan kepada dukungan peserta kongres.

"Dengan hasil voting ini, Pak SBY bisa melihat realitas politiknya dan membuat kesimpulan ke arah mana dukungannya. Harus ada instruksi politik kepada ketiganya. Kalau dibiarkan liar, akan ada kemungkinan politik uang untuk mengalihkan dukungan," kata Achsanul, seusai voting, kemarin. Dari 375 suara yang memilih opsi B, Achsanul mengklaim 283 suara merupakan milik Marzuki.

Sementara itu, Juru Bicara Tim Sukses Anas Urbaningrum, Saan Mustopa, memilih lebih cooling down. Ia tak menganggap hasil voting merupakan gambaran kekuatan dukungan. "Itukan hanya penentuan waktu. Agar tidak ada kekosongan setelah pengurus lama demisioner. Untuk dukungan, kami akan terus menjaga agar dukungan yang sudah didapatkan tidak lari," kata dia saat jumpa pers di Pusat Informasi AU.

Saan juga membantah adanya tawaran kepada Anas untuk mundur dan menjadi sekjen bagi Andi Mallarangeng. "Tidak ada. Mas Anas datang ke sini untuk berkompetisi menjadi ketua umum," ucapnya.

Ketua Tim Sukses Andi Mallarangeng, Nachrowi Ramli, mengatakan, meski dalam voting kemarin opsinya hanya didukung 130 suara, pihaknya masih optimistis bisa memenangkan pertarungan. Sebelumnya, kubu Andi mengklaim telah mengantongi 300 suara.

"Ada pendukung kami yang lari. Kami doakan mereka kembali ke jalan yang benar. Tetapi, kami optimistis masih bisa menang karena ada kekuatan atau power lain," kata Nachrowi.

Apakah kekuatan lain itu intervensi SBY? "Ah, tidak ada itu," sanggah dia.

Pemenang dari ketiga petarung itu akan ditentukan siang ini. Pengamat Politik, Asep Warlan Yusuf, berharap, proses pemilihan ketua umum Partai Demokrat berlangsung demokratis. "Saya yakin, Pak SBY sudah mengantongi nama, siapa calon yang dipreferensikannya. Makanya, saya agak bertanya-tanya apakah persaingan di antara ketiganya ini hanya rekayasa atau bagaimana. Semoga bukan (rekayasa). Oleh karena itu, biarkan prosesnya berlangsung secara demokratis sesuai dinamika yang berjalan," kata Asep.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau