BANGKOK, KOMPAS.com - Thailand pada Minggu memperpanjang jam malam di Bangkok dan di 23 propinsi lainnya selama dua lagi malam dengan alasan keamanan.
"CRES memperpanjang jam malam dua malam lagi sejak malam ini di Bangkok dan 23 propinsi dari pukul 23.00 hingga 04.00 demi keamanan," kata pejabat dari Pusat Penanganan Keadaan Darurat (CRES), Minggu (23/5/2010).
Jam malam empat malam diterapkan sesudah pembakaran dan penjarahan meledak di ibu kota itu dalam penumpasan atas unjukrasa menentang pemerintah.
Jam malam baru itu lebih singkat daripada sebelumnya, antara pukul 21.00 hingga 05.00 selama tiga hari lalu.
PM Thailand Abhisit Vejjajiva, Minggu menyatakan, negaranya sudah tenang dan pulih. Sekolah, jalan dan badan pemerintah bisa berkegiatan kembali pada Senin.
"Segala sesuatunya telah tenang dan kembali seperti sediakala," kata Abhisit dalam pidato berkala di televisi.
Abhisit menyatakan pemerintah kota sedang membersihkan kawasan unjukrasa di wilayah niaga terkenal Bangkok itu, yang secara paksa dibersihkan pekan lalu setelah enam pekan diduduki penentangnya.
"Lalu lintas dan apa pun akan pulih besok. Kantor pemerintah dan sekolah akan dibuka kembali," katanya, merujuk pada tindakan, yang diberlakukan, agar warga menjauh dari jalan itu saat tentara terlibat bentrok dengan pengunjukrasa Kaos Merah.
Tentara mencari bahan peledak, sementara petugas pemadam sibuk menyiram bara yang masih menyala di sebuah pertokoan mewah, yang dibakar pada Sabtu.
Ibukota dibersihkan dari puing setelah kerusuhan politik terburuk di dalam sejarah modern Thailand itu, Abhisit menandaskan kepentingan rujuk dalam pidato pada Jumat.
Namun, dalam pidatonya itu, Abhisit tidak menawarkan penyelenggaraan pemilihan umum dini, yang menjadi tuntutan utama penentangnya, yang dua bulan menggelar unjukrasa di Bangkok, sampai tentara membubarkan mereka pada pekan lalu.
Pengunjukrasa Kaos Merah, yang menimbulkan kerusuhan di Bangkok, sebagian besar datang dari daerah perdesaan dan masyarakat miskin kota.
Mereka, yang cenderung setia kepada mantan PM Thaksin Shinawatra, yang digulingkan dalam kudeta pada 2006 dan kini hidup di pengasingan, menginginkan pemilihan umum dan menuding tokoh kota mengangkangi semua kekuasaan dan mengabaikan kemakmuran negara.
"Mari, yakinlah kembali bahwa pemerintah akan memenuhi tantangan itu dan mengatasi kesulitan tersebut melalui lima rencana rujuk, yang saya umumkan sebelumnya," kata Abhisit dalam pidato televisi.
Rencana itu, pertama kali diumumkan pada 3 Mei, menawarkan reformasi politik, keadilan sosial dan penyelidikan terhadap kekerasan politik.
Kaos Merah menyatakan Abhisit kurang disukai, karena berkuasa dalam pemungutan suara bermasalah di parlemen pada 2008, dengan dukungan diam-diam dari tentara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang