Mengapa Perut Berbunyi Saat Lapar?

Kompas.com - 24/05/2010, 14:30 WIB

KOMPAS.com — Suasana sedang hening-heningnya, ketika Anda menunggu pertanyaan selanjutnya dari direktur pelaksana perusahaan di mana Anda melamar pekerjaan, mendadak perut Anda mengeluarkan bunyi gemuruh yang kencang. Oh, tidaaak...! Mengapa rasa lapar ini tidak bisa ditahan dan meledak begitu saja? Tak terbayangkan bagaimana raut wajah Anda saat itu, antara malu yang tak tertahankan, ingin mendapat pekerjaan tersebut, tetapi juga ingin segera kabur dari ruangan.

Perut yang berbunyi ketika kita sedang kelaparan memang hal yang normal. Namun, menurut Shana Aborn, editor senior Ladies' Home Journal, sebenarnya bukan perut kita yang berbunyi, melainkan area yang terletak sedikit di bagian selatan. Selama proses mencerna, otot-otot pada usus besar maupun kecil berkontraksi, mendorong makanan dan cairan yang ada di sekitarnya. Ketika bercampur udara, hal itu menciptakan suara yang bergemuruh. Kadang-kadang kita mengeluarkan udara ini dalam bentuk kentut atau sendawa.

Ketika makan atau minum, kita juga menelan udara secara alami. Namun, kelebihan udara juga bisa masuk ke dalam sistem ketika Anda mengunyah permen karet, merokok, ngemut permen, atau minum dengan sedotan.

Makanan atau minuman yang mengandung gas, seperti roti gandum dan kacang-kacangan, brokoli dan kol, minuman bersoda, atau permen bebas gula yang menggunakan pemanis seperti sorbitol, ternyata juga bisa menimbulkan suara gemuruh pada perut ini. Hal ini terjadi karena makanan-makanan ini tidak dapat dicerna oleh usus kecil sehingga mereka masuk ke usus besar, yang menggunakan bakteri untuk memecahkannya. Proses inilah yang melepaskan gas dan menimbulkan suara bergelembung yang tidak sedap didengar.

Satu hal yang perlu Anda ketahui, ternyata tidak benar bahwa perut yang berbunyi selalu merupakan tanda bahwa Anda lapar. Suara tersebut bisa terjadi kapan saja ketika terjadi proses mencerna. Jadi, jangan lantas membuka tudung saji dan mencari-cari makanan. Salah-salah, Anda justru jadi makan berlebihan nantinya.

Anda tidak perlu mengkhawatirkan kesehatan Anda ketika perut mulai keroncongan seperti ini. Namun, tidak ada salahnya Anda berkonsultasi ke dokter jika kondisinya semakin parah, atau Anda mengalami sakit pada perut, mual, muntah, atau kehilangan berat badan. Sebab, rasa mulas yang parah dan bersendawa bisa jadi merupakan gejala gastro esophageal reflux disease (GERD), suatu kondisi ketika isi perut mengalir balik dari perut ke arah kerongkongan), atau problem pada jantung.

Namun, jika memang tidak membahayakan, kenapa ya, rasanya malu banget kalau suara perut kita didengar oleh orang lain?

“Karena itu bisa menarik perhatian orang lain dengan cara yang negatif," ungkap Cynthia Lett, Direktur Pelaksana International Society of Protocol and Etiquette Professionals, di Silver Spring, MD. “Kita kan harus menampilkan diri kita dengan cara memesona, jadi ketika tubuh kita 'mengkhianati' kita, itu memalukan.”

Bila hal itu terjadi saat Anda tengah diwawancara atau melakukan presentasi, tak usah bereaksi terlalu serius. Katakan saja, "Aduh, maaf!" tanpa perlu membahasnya. Sebaliknya, jika Anda mendengar teman atau atasan Anda yang memperdengarkan suara tersebut, acuhkan saja. Hal itu sesuatu yang normal dan terjadi pada siapa saja. Jadi, untuk apa dibesar-besarkan?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau