Minuman keras

Pesta Miras, 2 Purel Tewas, 1 Kritis

Kompas.com - 25/05/2010, 06:22 WIB

PONOROGO, KOMPAS.com - Minuman keras oplosan kembali memakan korban, kali ini terjadi di Ponorogo, Jawa Timur. Ada dua pramusaji kafe Maharani di kota itu tewas, dan seorang lainnya dalam kondisi kritis, Senin (24/5/2010) dini hari.

Pramusaji yang biasa menemani tamu lelaki dan sering disebut secara keliru sebagai purel (akronim dari public relation) itu adalah Eka alias Yamni (25), warga Dusun Sugihan, Desa Brenggolo, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dan Reni alias Candra Maya (24 dari Desa Kwangsen, Kecamatan Jiwan, Madiun, Jawa Timur.

Sedangkan korban kritis adalah Muryanti alias Ririn (18) yang masih sekampung dengan korban Eka. Ia dirawat di UGD RSU Aisyiyah Ponorogo untuk mendapatkan perawatan intensif.

Korban Eka tewas sesaat setelah dilarikan ke Rumah Sakit Aisiyah. Sedangkan korban Reni tewas setelah sempat dilarikan ke RSUD dr Hardjono Ponorogo.

Awalnya, ketiga pramusaji itu sedang pesta minuman keras dengan laki-laki pelanggannya. Diduga, ketiga cewek itu tidak tahan dengan minuman beralkohol. Korban Ririn alias Muryanti mengaku, saat itu mereka meminum delapan botol minuman keras. Namun, dia juga tak tahu jenis minuman tersebut.

"Malam itu, saya tak tahu di kamar mana, dua teman saya, Reni dan Eka menemani tamu. Kepala saya sudah terasa berat dan jantung terus berdetak," kata Ririn.

Tim Forensik RSUD dr Hardjono Ponorogo, Suyoto, menjelaskan, menduga, para korban kelebihan mengkonsumsi minuman keras.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Suhono, mencurigai ketidakberesan dalam kasus tersebut. Sebab, ketiga korban bekerja dalam satu tempat akan tetapi dikirim ke rumah sakit yang berbeda.

"Kami juga akan memeriksa kembali mayat Eka yang sudah dikirim ke rumah duka di Wonogiri," tegasnya.

Kapolsek Mlarak, AKP Sukamto, mengungkapkan, sejumlah saksi menyebutkan korban mengkonsumsi miras jenis bir yang dioplos. Namun, sejak pulang dari kampung halamannya, korban Eka sudah dalam keadaan sakit. Sedangkan korban Reni alias Candra Maya sejak sore sudah keluar dari Kafe. "Kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjutnya," paparnya.

Sementara, manajer Kafe Maharani, Sandy, menyebut, mereka over dosis, bukan karena dari jenis minuman keras yang beralkohol tinggi.

Alasannya, di kafenya hanya menyediakan minuman jenis bir hitam dan bir putih. Menurutnya, mereka pesta miras sejak Minggu (23/5/2010) pukul 20.30 WIB, sampai mereka terasa teler dan tidak berdaya.

"Karena melihat ketiganya kritis, akhirnya dibawa ke rumah sakit. Ketiga purel kami itu mulai sore minum bersama laki-laki pelanggannya. Kami juga tidak terlalu memperhatikan siapa laki-laki yang mabuk bersama para korban," tandasnya. (Sudarmawan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau