Laporan kontributor Kompas.com DINI MASSABUAU
KOMPAS.com - Roland Garros yang merupakan ajang pertandingan kelas dunia ini, semakin banyak diminati tidak hanya kalangan masyarakat Perancis saja. Akan tetapi, hampir dari seluruh dunia orang datang khusus untuk melihat pertandingan dan aksi para petenis favorit mereka.
Hari kedua berlangsungnya turnamen, saya berkesempatan meliput ajang grand slam lapangan tanah liat tersebut. Tahun ini banyaknya wartawan yang datang sekitar 3.500 orang dari 52 negara. Salah satunya tentunya dari Indonesia, yaitu saya.
Sedikit kilas balik, untuk meliput Roland Garros, syarat yang diminta oleh panitia cukup berbelit. Tadinya saya pikir siapa saja asal memiliki kartu press bisa datang dan meliput. Ternyata, para jurnalis yang bisa masuk dan meliput ajang pertandingan ini, terlebih dahulu diseleksi pihak panitia, dua bulan sebelum berlangsungnya acara.
Saya, misalnya, untuk memenuhi syarat meliput harus membuat proposal terlebih dahulu mengenai liputan apa yang akan saya buat. Media massa apa tempat saya akan menerbitkan tulisan, bukti-bukti tentang karya tulisan saya juga dimintai, untuk mengetahui dari segi profesional si wartawan.
Setelah penyeleksian, barulah setiap media massa atau jurnalis mendapatkan izin dari panitia Roland Garros. Izin yang diberikan bisa bermacam-macam, tergantung kepada besarnya jaringan media massa atau kepada tingkat profesional si wartawan itu sendiri.
Senin (24/5/10) kemarin adalah hari pertama saya mulai menjelajahi stadiun Roland Garros. Di pintu masuk sudah berjajar orang mengantri untuk membeli tiket, karena banyak juga pengunjung yang datang dengan membeli tiket di tempat. Hal yang saya rasa tak akan sanggup saya lakukan, karena panjangnya antrian saja sudah membuat saya pegal terlebih dahulu ditambah dengan udara panas yang menyengat.
Saya tanya salah satu pengantri, ternyata sudah lebih dari setengah jam dia mengantri hanya untuk mendapatkan tiket masuk! Tapi demi melihat pertandingan yang mereka inginkan, ternyata banyak juga beberapa yang lebih memilih membeli tiket di tempat tergantung kepada siapa saja yang bermain di hari itu. Meskipun demikian, ada juga beberapa turis yang datang memang bukan khusus untuk melihat pertandingan, melainkan hanya melihat suasana Roland Garros.
Penjagaan di setiap pintu sangat ketat. Saat saya melewati sebuah pintu jalur mobil untuk menuju pintu gerbang khusus press, saya dengar teriakan orang memanggil 'Rava...! Rava...!' sehingga saya langsung berbalik arah. Ternyata benar, petenis spanyol Rafael Nadal keluar dengan mobil yang disopiri petugas Roland Garros. Tangannya melambai dan tersenyum kepada para fansnya.
Saya menyesal karena kejadian itu begitu cepat dan saya tak sempat mengabadikannya. Tapi saya masih beberapa hari di Roland Garros, jadi masih ada kesempatan untuk merekam profilnya di kamera saya.
Setelah mengurus dan mendapatkan bagdes press resmi Roland Garros, saya mulai melakukan investigasi tentang suasana setempat. Kesan pertama adalah, lautan manusia! Sampai bingung awalnya saya mau mulai dari mana, karena setiap tempat isinya manusia. Dan yang lebih menakjubkan, sepanjang pinggiran jalan butik-butik souvenir Roland Garros berjejeran menawarkan berbagai produk.
Dari mulai topi, kaos, handuk, gelas, gantungan hingga satu produk yang sangat terkenal yaitu bola tenis raksasa. Saya kaget waktu melihat harga yang terpasang, sangat mahal menurut ukuran saya. Misalnya bola raksasa yang wajib dimiliki anak-anak untuk meminta tanda tangan para petenis, berharga 32 euro (sekitar Rp 361.254). Dan topi hanya dengan simbol Roland Garros paling murah seharga 22 euro (sekitar Rp 248.362).
Saya datangi salah satu butik dan berbincang-bincang sedikit dengan salah satu penjualnya. Penasaran barang apa yang laris manis dibeli pengunjung. Ternyata, topi dan handuk kerap menjadi pilihan konsumen.
Topi dianggap barang yang apik dan juga berguna saat itu, mengingat terik matahari yang menyengat. Sedangkan handuk yang dijual sama dengan handuk yang dimiliki para pemain tenis. Karena itu para pengunjung rela mengocek sekitar 25 euro hingga 30 euro untuk handuk kecil, sebagai oleh-oleh kenangan dari kunjungan mereka di Roland Garros.
Saya coba melihat beberapa produk yang ditawarkan, ingin tahu buatan negara mana karena bagi saya penting sekali membeli suatu barang souvenir yang dibuat oleh negara itu sendiri. Ternyata tak semua buatan Perancis, kebanyakan buatan China. Sejauh ini saya belum melihat buatan Indonesia, namun esok hari saya akan memulai menyibak kembali arena stadiun Roland Garros, karena masih banyak yang bisa diceritakan.
Sementara sore harinya saya mencoba melihat pertandingan di dua lapangan utama. Yaitu lapangan Philippe Chartrier dimana Gael Monfils melawan petenis muda Jerman Dieter Kindlmann, yang baru pertama kali bertanding di sini. Saya yang duduk sebelahan dengan pelatih Monfils, merasa beryukur sekali... karena si petenis Perancis ini tak berhenti melihat kepadanya, terkadang mengeluh, sesekali seperti meminta dukungan.
Kesempatan emas ini tentu saja langsung saya rekam dalam kamera saya... apalagi setelah si hitam keling ini akhirnya memenangkan pertandingan meskipun sempat kalah di set ketiga. Penonton yang sebagain besar orang Perancis, langsung bersorak ketika pemain nomor dua Perancis ini mengakhiri set kelimanya dengan kemenangan.
Sementara itu di lapangan utama kedua yaitu Suzanne Lenglen, petenis Perancis Richard Gasquet yang sempat divonis menggunakan kokain ini hingga sempat mendapatkan sanksi cekal bermain tahun lalu, dikalahkan oleh petenis Inggris Andy Murray. Di atas lapangan tanah merah, mereka bertarung selama lima set, yang menghabiskan waktu 4 jam 4 menit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang