Konferensi perubahan iklim oslo

Kurangi Emisi Indonesia Butuh Badan Baru

Kompas.com - 27/05/2010, 11:38 WIB

OSLO, KOMPAS.com - Sesuai dengan isi Letter of Intent (LoI) tentang Kerjasama Pemerintah RI dan Norwegia mengenai Pengurangan Emisi Akibat Rumah Kaca dari Deforestrasi dan Degradasi Hutan, maka lembaga sejenis Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, harus terbentuk sebelum Desember 2010.

Hal ini diungkapkan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, Kamis (27/5/2010).

Lembaga yang bisa disebut "Multinasional Trust Fund" itu akan mengelola dana-dana bantuan yang masuk dari negara-negara sahabat. Contohnya, komitmen dana dari Pemerintah Norwegia sebesar 1 miliar dollar Amerika Serikat (AS) untuk pengurangan emisi dari deforestrasi dan degradasi hutan.

Target pemerintah Indonesia akan mengurangi emisi sampai 26 persen sampai dengan tahun 2020 mendatang. Kuntoro menjawab pers semalam, seusai pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg di hotel tempat sebagian besar rombongan Delegasi Indonesia menginap, Quality Hotel, Oslo, Norwegia.

"Dalam enam bulan ini, lembaga sejenis BRR Aceh dan Nias itu harus sudah ada. Nah, sekarang harus dipersiapkan kelembagaannya dulu, perangkat aturannya serta personilnya," tandas Kuntoro.

Menurut Kuntoro, lembaga yang akan dibentuk harus memiliki faktor-faktor seperti BRR Aceh dan Nias yang pernah dipimpinnya selama beberapa tahun pasca gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias akhir tahun 2004 silam.

"Faktor-faktor itu adalah ketuanya harus setara dengan menteri sehingga bisa mengambil keputusan dan melapor ke Presiden langsung. Selain itu juga ada kebebasan dalam perencanaan dan pengadaan, termasuk orang dan sistem penggajiannya agar pegawainya memiliki daya tah tinggi terhadap korupsi," kata Kuntoro.

Adapun terkait monitoring sytem seperti yang disaratkan dalam LoI tersebut, Kuntoro selama ini BRR Aceh dan Nias sudah mempraktikan sistem pemantauan dengan memanfaatkan Geografic Information System (GIS) sehingga titik proyek yang dijalankannya bisa dilihat langsung dengan titik koordinat. "Cara ini yang sekarang saya pakai lagi di pemerintah untuk mengukur kinerja kementerian," demikian Kuntoro.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau