JAKARTA, KOMPAS.com — Meski menggembirakan, banyaknya pengunjung yang datang ke Museum Sejarah Jakarta sering kali juga membuat rugi pengelola museum. Pasalnya, banyak pengunjung yang tidak tertib saat berada di museum sehingga merusak koleksi-koleksi sejarah.
"Kunjungan, paling banyak, pelajar. Namun, (mereka) kurang diberi pemahaman tentang koleksi museum. Mereka hanya lihat dari segi tren, masuk museum untuk foto-foto. Sengaja atau tidak, (mereka) banyak menyentuh benda-benda," ujar Petugas Seksi Koleksi dan Perawatan Museum Sejarah Jakarta, Khasirun, Minggu (30/5/2010).
Padahal, lanjut Khasirun, pengelola telah menginformasikan agar pengunjung tidak memegang koleksi-koleksi sejarah dan membawa makanan atau minuman saat memasuki museum. "Kalau bawa makanan, semut datang, semut ke barang, ke painting, ke kertas," kata Khasirun.
Selain itu, sentuhan pengunjung menurut Khasirun dapat mempercepat korosi atau pengaratan benda sejarah. "Pengunjung yang menyentuh meninggalkan keringat, penggaraman, kepada benda. Lama-kelamaan, bila 900 sampai 1.000 orang pegang, akan cepat korosi," ujarnya.
Banyaknya pengunjung juga mempengaruhi suhu dan kelembaban udara museum. Semakin banyak pengunjung, suhu dan kelembaban udara makin tinggi sehingga berisiko terhadap rusaknya koleksi. Oleh karena itulah, Khasirun mengimbau agar pengunjung tertib untuk tidak membawa makanan, minuman, atau menyentuh koleksi sejarah.
"Naik tangga juga lebih teratur, sering sengaja dibunyikan (lompat di anak tangga atau terlalu keras melangkah), itu akan timbul retak-retak di langit-langit," imbuh Khasirun.
Selain itu, menurut Khasirun, akan lebih baik jika pihak pengelola museum menambah jumlah petugas museum untuk mengawasi pengunjung. "Petugas atau karyawan yang sesuai jumlahnya, juga mengerti, memahami kondisi museum," katanya.
Untuk diketahui, antara 2.000 dan 5.000 pengunjung memadati museum sejarah Jakarta atau yang dikenal dengan nama Museum Fatahillah setiap hari libur, Sabtu, dan Minggu. Berdasarkan pantauan Kompas.com, pengunjung Museum Fatahillah sebagian besar adalah rombongan remaja yang hobi berfoto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang