Jalan Rusak di Sentral Cinere

Kompas.com - 31/05/2010, 04:20 WIB

Depok, Kompas - Jalur transportasi dari Kota Depok menuju Jakarta melalui pusat bisnis Cinere terkendala buruknya infrastruktur jalan. Sarana yang ada tidak mendukung tingginya pengguna kendaraan yang melintas setiap hari. Pengguna jalan sangat tidak nyaman ketika melintas di ruas ini.

Kondisi aspal jalan di ruas Cinere ini sudah lama mengelupas. Bahkan, aspalnya sama sekali tidak terlihat sehingga jalanan membentuk cekungan yang dalam dan menjadi kubangan air seusai diguyur hujan.

Adapun sarana pelengkap jalan, seperti trotoar dan drainase, sangat tidak memadai. Kondisi ini diperburuk lagi oleh dua penyempitan jalan yang menyebabkan kemacetan panjang di sejumlah titik.

”Setiap melintas di sini (Cinere), saya selalu terjebak macet. Penumpang saya sering mengeluh karena perjalanan mereka menjadi lambat,” tutur sopir angkutan 110 jurusan Cinere-Depok, Samiyono (49), Minggu (30/5) di Depok.

Sudah lama Samiyono berharap Pemerintah Kota Depok memerhatikan persoalan jalan rusak yang terjadi di Cinere.

Padahal, jalur di Cinere ini sangat penting untuk memperlancar arus barang dan orang dari Depok menuju Jakarta atau sebaliknya. Sedikitnya, ada empat jalur angkutan kota dan satu jalur bus kota di ruas Cinere ini.

Jika hari libur, kondisi kemacetan di jalur ini bisa bertambah dengan masuknya bus pariwisata yang kerap melintas di jalur ini menuju Masjid Kubah Mas.

Di sisi lain, Cinere terus berkembang menjadi salah satu pusat bisnis di Kota Depok, selain Margonda dan Cimanggis. Namun, titik terparah kerusakan jalan justru terletak di jantung kegiatan bisnis Cinere, yaitu antara Mal Cinere dan Cinere Square sepanjang sekitar 700 meter.

Jalan di ruas ini mengalami penyempitan karena jumlah lajur jalan tidak sama di sejumlah ruas. Terdapat satu sampai tiga lajur jalan sehingga pada titik penyempitan terjadi antrean kendaraan kendaraan.

Dian (46), warga Perumahan Bukit Cinere Indah, mengatakan, kerusakan jalan menyebabkan perjalanannya terhambat. Apalagi, saat jam pulang kerja, dia terpaksa menghabiskan waktu selama satu jam dari ruas ini menuju tempat tinggalnya di Bukit Cinere Indah. Padahal, jaraknya hanya kurang dari dua kilometer.

Perbaikan

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok Yayan Arianto mengakui buruknya kondisi jalan di Cinere. Pemkot Depok berencana memperbaiki jalur Cinere ini pada awal Juni 2010.

Tahun ini Pemkot Depok melebarkan jalan di ruas Jalan Lereng sampai Jalan Bandung. Selain itu, juga akan mengeraskan jalan menjadi beton di ruas Markas Kepolisian Sektor Limo sampai Jalan Jakarta. Kemudian ruas Jalan Jakarta sampai Mal Cinere yang berlanjut hingga Perumahan Puri Cinere.

Di seluruh wilayah Depok, terdapat 28 titik kerusakan jalan. Khusus jalur Depok-Cinere-Jakarta akan dilebarkan menjadi 24 meter, dari perempatan Jalan Jakarta menuju pertigaan Parung Bingung. ”Target penyelesaian bergantung pada tersedianya dana. Tahun ini, yang tersedia Rp 8 miliar,” kata Yayan.

Dana perawatan

Di Jakarta Selatan, dana perawatan jalan di wilayah tidak sebanding dengan tingkat kerusakan yang ada. Bahkan, dana perawatan senilai Rp 10 miliar per tahun tidak cukup untuk menambal lubang jalan. Kebutuhan dana untuk menambal jalan per tahun sebesar Rp 20 miliar.

Perawatan jalan itu belum menjangkau perbaikan bangunan pelengkap jalan yang terdiri dari drainase, trotoar, dan bahu jalan. Kerusakan jalan kolektor sekunder atau jalan yang menghubungkan antarkecamatan dan jalan lokal atau jalan yang menghubungkan antarkelurahan di Jakarta Selatan sebesar Rp 174.000 meter persegi per tahun.

”Kami berusaha menggunakan dana Rp 10 miliar semaksimal mungkin. Meski tidak cukup, lubang jalan tetap kami tutup dengan dana yang ada,” tutur Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan, Jakarta Selatan, Yayat Hidayat.

Tahun ini, kata Yayat, suku dinas PU Jalan mengajukan tambahan dana perawatan jalan Rp 10 miliar. Dana ini hanya cukup untuk menambal lubang jalan di wilayah Jakarta Selatan. Padahal, menurut Yayat, masih banyak jalan di wilayah Jakarta Selatan yang belum memiliki bangunan pelengkap jalan. Kondisi buruk ini paling banyak berada di Kecamatan Tebet, Jagakarsa, Pasar Minggu, dan Kebayoran Lama. ”Bahkan, jalan kolektor sekunder di ruas Jagakarsa banyak yang belum memiliki drainase,” katanya.

Sampai akhir Mei ini, kerusakan jalan kolektor sekunder di wilayah Jakarta Selatan seluas 38.000 meter persegi. Suku dinas PU jalan telah memperbaiki 34.000 meter persegi, tetapi perbaikan ini belum termasuk bangunan pelengkap jalan.

Yayat mengkhawatirkan peningkatan curah hujan akan menambah tingkat kerusakan jalan di ruas yang tidak memiliki drainase. (NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau