Penyelenggaraan

Mobil Pribadi Dilarang Masuk Area Stadion

Kompas.com - 31/05/2010, 04:54 WIB

Johannesburg, Minggu - Selama Piala Dunia 2010, seluruh kendaraan pribadi dilarang masuk area stadion hingga radius 800 meter. Para penonton harus memarkir kendaraan jauh dari kompleks stadion dan menggunakan bus penjemput (shuttle bus) yang disediakan oleh penyelenggara, atau berjalan kaki. Langkah ini juga diterapkan saat Piala Konfederasi tahun lalu dan diharapkan efektif mengurangi kemacetan saat Piala Dunia berlangsung.

Kebijakan itu diambil setelah dua kali terjadi kemacetan panjang menuju Stadion Soccer City di Johannesburg. Kemacetan panjang membuat para pengguna jalan terjebak selama dua-tiga jam saat pembukaan stadion Soccer City.

Kemacetan sepanjang 5 kilometer di jalan menuju Stadion Soccer City terjadi pada Kamis lalu saat pertandingan persahabatan antara Afrika Selatan dan Kolombia. Karena kemacetan yang panjang itu, banyak para penonton yang meninggalkan mobil di pinggir jalan dan berjalan kaki menuju stadion.

Kemacetan akan mengganggu kelancaran upacara pembukaan dan penutupan yang dipusatkan di stadion berkapasitas 94.700 penonton tersebut.

”Ini tidak akan terlihat selama Piala Dunia,” ujar Kepala Proyek Piala Dunia Johannesburg Sibongile Mazibuko.

Ketua panitia lokal kota Polokwane, Irvin Khoza, berharap kemacetan seperti itu tidak terulang lagi saat Piala Dunia. Sejumlah jalan yang ditutup selama pertandingan seharusnya ditambah dan pertandingan sebaiknya tidak berlangsung saat jam-jam macet.

Presiden FIFA Sepp Blatter yakin seluruh persiapan pembukaan Piala Dunia 11 Juni 2010 akan selesai tepat waktu. Ia juga senang dengan hasil penjualan tiket terakhir yang mencapai 80.000 lembar dari 164.000 tiket pada Jumat.

”Saya bisa katakan bahwa saya juga gembira dalam beberapa hari kita bisa membuka Piala Dunia di Benua Afrika,” ujar Blatter dalam pembukaan Stadion Peter Mokaba di Polokwane, sekitar 350 kilometer arah utara Johannesburg, Sabtu (29/5).

”Seluruh detail akan selesai dengan sangat baik dan kita akan memiliki acara yang akbar,” ujar Blatter.

Stadion Peter Mokaba yang berkapasitas 45.000 penonton itu kemungkinan tidak akan penuh karena Polokwane termasuk kota kecil dan jauh dari pusat perekonomian di Johannesburg.

Khoza menilai penjualan tiket akan menyamai Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat ini sudah terjual sekitar 97 persen dari 2,9 juta tiket untuk 64 pertandingan. Penjualan tiket tambahan pada Jumat dipadati ribuan penggemar bola yang rela mengantre hingga dua hari. (AFP/ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau