KOMPAS.com — Grup Bakrie seolah tak pernah berhenti membuat kontroversi. Belum kelar rencana PT Bakrie Development Tbk (ELTY) untuk menerbitkan saham baru atau rights issue senilai Rp 5,4 triliun, pekan lalu giliran PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mengguncang pasar saham dengan kabar serupa.
Namun, berbeda dengan ELTY, emiten pertambangan ini akan menerbitkan saham baru tanpa rights alias hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). BUMI akan menerbitkan 10 persen saham baru dari modal disetor atau sekitar 1,9 miliar saham. Harga saham baru ini ditaksir sebesar Rp 2.327 per saham.
Harga itu mencerminkan harga rata-rata selama 25 hari bursa sebelum pengumuman rencana penerbitan saham baru BUMI pada 24 Mei lalu. Dengan asumsi harga itu, BUMI bakal meraup fulus Rp 4,5 triliun.
Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, penerbitan saham baru ini dilakukan untuk memperkokoh fundamental perusahaannya. "Niat strategis BUMI adalah menurunkan atau menekan utang sekitar 1 miliar dollar AS dalam jangka waktu 12 bulan ke depan," ujarnya kepada bursa.
Meski tujuannya baik, rencana emiten-emiten grup Bakrie untuk menerbitkan saham baru telah membuat banyak investornya kecewa. Imbasnya, pada 24 Mei lalu, saham-saham The Seven Brothers terkapar. Hari itu, saham BUMI susut 17,8 persen ke level 1.780 per saham. Sementara saham ELTY tergerus 19,3 persen ke posisi Rp 129 per saham.
Nasib naas juga menimpa PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Kelima saham itu rata-rata terpangkas lebih dari 10 persen dalam sehari.
Di Senin kelabu itu, kapitalisasi saham Grup Bakrie ikut luntur Rp 10,14 triliun. Akibat ambruknya saham-saham Bakrie tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ikut melorot 5,3 persen ke level 2,623.72.
Toh, dua hari berikutnya, saham-saham Grup Bakrie berbalik terbang tinggi. Tingginya fluktuasi harga memang menjadi karakter saham-saham Bakrie. Makanya, banyak investor saham yang tergoda untuk memainkan uangnya di saham-saham ini. Danny Eugene, Kepala Riset Mega Capital Indonesia, bilang, saham-saham Grup Bakrie lebih tepat bagi investor yang trading jangka pendek. "Saham Bakrie pas untuk spekulasi," jelasnya.
Namun, agar risikonya lebih terjaga, Danny menyarankan agar investor membidik saham-saham Bakrie yang berfundamental kuat. Misalnya, saham BUMI, ELTY, dan UNSP.
Edwin Sebayang, Kepala Riset Bhakti Securities, menambahkan, rencana penerbitan saham baru juga akan menguntungkan BUMI. Sebab, utangnya yang mencapai 5,94 miliar dollar AS di akhir 2009 bisa turun jadi 4 miliar dollar AS seusai aksi korporasi ini. Namun, Analis PT Sucorinvest Central Gani Pang Tek Djen justru menyarankan investor untuk sementara menghindari saham Grup Bakrie karena risiko terlalu tinggi. (Kontan/Avanty Nurdiana)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang